posting

Thursday, January 14, 2016

Analisis Unsur-unsur INtrinsik dan Ekstrinsik Novel Ibrahim Rindu Allah

 Novel “Ibrahim Rindu Allah” (Wiwid Prasetyo)
Sinopsis Novel “Ibrahim Rindu Allah” (Wiwid Prasetyo)

“Ibrahim Rindu Allah”
(Wiwid Prasetyo)
                Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 67).
                Inilah sebuah novel yang sangat inspiratif dalam membangun kehidupan penuh ketaatan kepada Allah Swt. Di dalamnya diangKat kisah heroik dan begitu menyentuh tentang perjalanan seorang hamba pilihan Allah yang membebaskan manusia dari gulita kesyirikan menuju benderang cahaya peradaban tauhid. Dialah, Nabi  Ibrahim As.
                Kisahnya yang sangat legendaris atas liku-liku pencariannya dalam menemukan keyakinan akan adanya Sang Pencipta alam semesta yang perlu disembah seluruh makhluk di jagat raya ini, benar-benar membuat beliau layak digelari Bapak Tauhid.
                Keyakinan Nabi  Ibrahim bukan tanpa ujian. Dakwahnya pun bukan tanpa tantangan. Ia harus berhadapan dengan Raja Namrudz dan pengikut-pengikutnya yang zhalim, termasuk berhadapan dengan keyakinan ayahnya yang masih taat menganut kepercayaan lama yang dianggapnya sesat. Ujung-ujungnya tentu saja sebuah hukuman sangat mengerikan harus dialaminya, yakni: dibakar hidup-hidup.
                Sungguh, membaca novel ini dapat menjadikan kita teguh dalam menggenggam kebenaran; sebuah sikap yang sangat penting dalam kehidupan sekarang, di mana berhala-berhala Namrudz—meski dalam bentuk lain—dan para penyembahnya, mulai bermunculan di sekitar kita! Waspadalah…!

 Unsur-unsur Intrinsik Novel “Ibrahim Rindu Allah” (Wiwid Prasetyo)
a)      Tema
               Tema cerita dalam novel ini adalah perjuangan Nabi  Ibrahim dalam menemukan keberadaan Sang pencipta dan menemukan kebesaranNya.
b)      Penokohan
Tokoh dalam cerita ini adalah;
1)      Bangsa Sumeria; bangsa kafir yang memuja para dewa.
2)      Penduduk keturunan kan’an; penduduk kafir yang memuja para dewa.
3)      Nabi  Nuh; Nabi  yang mengajarkan ajaran Tauhid kepada Allah, baik hati, patuh terhadap perintah Allah, sabar dalam menghadapi segala ujian dari Allah, dan selamat dari bencana banjir besar yang diturunkan kepada kaumnya.
4)      Pendongeng istana; seorang yang kafir dan memuja dewa.
5)      Raja Namrudz; raja Babilonia yang menyembah dewa Marduk, seorang pemimpin yang picik, zhalim, diktator, otoriter, serakah, dan sombong.
6)      Penduduk Babilonia; penduduk kafir yang bangga bahwa peradaban yang mereka adalah dibangun dari hasil kerja keras mereka setelah berhasil menaklukan alam.
7)      Bangsa Mesopotamia; bangsa kafir pada zaman dahulu pada zaman Nabi  Ibrahim 
8)      Para punggawa, penasihat, menteri kerajaan, prajurit, dan para budak; orang-orang kafir yang patuh dan taat pada raja Namrudz.
9)      Ahli nujum dan tukang ramal; orang kafir yang taat pada raja Namrudz.
10)   Fir’aun; raja yang mengaku sebagai Tuhan pada zaman Nabi  Musa, yang zhalim.
11)   Nabi  Musa; Nabi  utusan Allah.
12)   Theodore Hezrl; tokoh yahudi yang terpandang.
13)   Tarukh; Ayah Nabi  Ibrahim, orang yang beriman pada ajaran Tauhid Nabi  Nuh dan percaya pada kerasulan Nabi  Ibrahim.
14)   Ummi Ibrahim; ibu yang baik bagi ibrahim dan orang yang beriman pada ajaran Nabi Ibrahim.
15)   Nabi  Ibrahim; (anak Tarukh ketiga), pemberani, penyabar, perjuangan dakwah tauhidnya yang penuh cobaan tetapi ia tetap tegar dan ikhlas menjalankan semua kewajiban yang Allah perintahkan, Nabi utusan Allah, dijuluki sebagai bapak para Nabi karena keturunannya banyak yang menjadi Nabi dan utusan Allah, seorang Nabi ulul azmi.
16)   Ummi Maryam; ibunya Nabi Isa.
17)   Nabi  Isa; Nabi utusan Allah.
18)   Ummi Imran; ibunya Nabi Musa.
19)   Nabi  Musa; Nabi utusan Allah.
20)   Nahor; saudara Nabi  Ibrahim (anak Tarukh pertama)
21)   Haran; saudara Nabi  Ibrahim (anak Tarukh kedua)
22)   Paman Nabi  Ibrahim; (bernama Azar) seorang kafir penyembah berhala dan pembuat patung-patung rendahan, seorang cendekiawan, seniman, astrolog, pebisnis, dan penasihat kerajaan.
23)   Putri Razia; anak dari raja Namrudz yang beriman pada ajaran Nabi Nuh dan Ibrahim.
24)   Nabi  Luth; (keponakan Nabi  Ibrahim, anak dari Haran), seorang Nabi utusan Allah.
25)   Bangsa Amorit; bangsa kafir pada zamannya.
26)   Bangsa Phoenicia; bangsa kafir pada zamannya.
27)   Bangsa Filistin;
28)   Bangsa Yabus;
29)   Bangsa Yerusalem (ursalem);
30)   Kana’an bin Ham bin Nuh; anaknya Nabi Nuh yang durhaka.
31)   Kaum Jabbarin;
32)   Sarah; istri Nabi  Ibrahim 1, lemah lembut, menawan hati penuh keikhlasan, selalu berusaha mengukur segala perilakunya dengan keridhaan Allah, Ibu dari Nabi Ishaq.
33)   Paman Nabi  Ibrahim; baik hati, beliaulah yang mengajarkan Nabi Ibrahim dan Nabi Luth menjadi pebisnis yang kaya dan ahli dalam peternakan.
34)   Ado; istri Nabi  Luth yang kafir, membangkang pada suaminya dan memilih untuk mengikuti kaum Sodom.
35)   Anak Nabi  Luth; tidak diceritakan apakah dia kafir atau beriman pada ajaran Ayahnya.
36)   Raja Menes; adil, tegas, tanpa pandang bulu, tetapi ia seorang kafir, raja kerajaan Mesir.
37)   Raja Sinan; bernama lengkap al-Amr bin Amru al-Qais bin Mailun, Raja yang zhalim karena suka mempermainkan seluruh perempuan yang menjadi kaumnya, raja yang mata keranjang pada semua perempuan cantik yang ia temui.
38)   Siti Hajar; istri Nabi  Ibrahim 2, sebelumnya pembantu rumah tangga Nabi  Ibrahim dan Siti Sarah, pembantu yang taat, wanita yang lemah lembut, cantik hatinya, wanita yang sabar, ibu dari Nabi Ismail.
39)   Dul Arsh; orang yang zhalim karena membunuh Ayahnya Siti Hajar, lalu membuang Siti Hajar dan menjadikannya sebagai budak dan selir di Istana kerajaan.
40)   Nabi  Ismail; anak Nabi  Ibrahim dan Siti Hajar, seorang Nabi utusan Allah.
41)   Nabi  Ishaq; anak Nabi  Ibrahim dan Siti Sarah, seorang Nabi utusan Allah.
42)   Rafqah; keponakan dan istri Nabi  Ishaq, cucu dari Nahur saudara kandung Nabi  Ibrahim.
43)   Istri Nabi  Ismail;
44)   Keturunan Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Musa, Yunus, Daud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, dan Isa; para Nabi utusan Allah.
45)   Keturunan Ismail, Nabi  Muhammad saw.; para Nabi utusan Allah yang menjadi Nabi umat akhir zaman.
c)       Alur
               Alur cerita dalam novel ini adalah alur maju karena menceritakan perjuangan Nabi Ibrahim dalam mencari kebesaran Tuhannya sejak ia lahir sampai meninggal dan banyak melahirkan keturunan dan menjadi para Nabi sebagai penerus agama Allah atau agama ajaran Tauhid (Islam).
d)      Sudut pandang
               Sudut pandang cerita dalam novel ini adalah sudut pandang orang ketiga.
e)      Gaya bahasa
               Gaya bahasa yang digunakan dalam cerita novel ini sungguh menyentuh hati para pembaca karena bahasa yang digunakan membuat pembaca seolah mengikuti jalan cerita yang nyata, mendalami perjuangan para Nabi, khususnya perjuangan Nabi Ibrahim dalam menemukan keyakinannya dan menyebarkan ajaranNya. Gaya bahasanya mudah dipahami dan dimengerti karena kisahnya Nabi Ibrahim ini diceritakan sungguh sangat heroik dan penuh perjuangan, serta ditulis rapi dengan kisah yang bagus.
f)       Latar
Latar tempat;
sungai Eufrat, sungai Tigris, negara kota Ur, kota Ereck, Babilonia, Niniveh, Kish, Fadam Aram, Baitul Atiq, kerajaan Babilonia, ziggurat (kuil pemujaan), kota Babel, kantor administrasi, rumah-rumah penduduk, kuil, asyiria, akkadia, kaldea, negara Israel, tanah Shinear, gua, timur tengah, hutan, rumah, pasar, alun-alun kerajaan, luar kota, sebuah desa, padang pasir, Ur-Kasdim, Kana’an (Palestina), kota Harran, kota Bersheba, Asydod, Al-Quds, negeri Syam, negeri Sodom dan Gomorrah, desa Shafrah, Mesir, sungai Nil, Piramid, Afrika Utara, gurun Sinai, kerajaan Mesir, obelisk (kuil penyembahan), pasar daerah Memphis, kedai minuman, kandang ternak, lembah Arab (Mekkah), laut tengah, rumah Hajar, Yaman, dan ka’bah.  
Latar waktu;
pada tahun 1970 SM, pada abad ke-21, pada malam hari, pagi hari, pada siang hari, pada tahun 1900 SM, abad 2500 SM, tahun 2000 SM, senja, masa paleolitikum, dan abad 31 SM.
Latar suasana;
Suasana yang tergambar adalah begitu menyedihkan karena pada zaman dahulu orang-orang jahiliyah itu menyembah berhala, perjuangan para Nabi dalam menyadarkan kaumnya adalah sangat berat, mereka (para Nabi) diuji kesabarannya oleh Allah begitu pedih, tetapi mereka tetap tegar, ikhlas, dan penuh keberanian dalam melawan musuh yaitu para orang kafir, lalu suasana gembira pun ada karena Nabi Ibrahim banyak melahirkan keturunan para Nabi, dan satu per satu kaumnya pun beriman pada ajaran yang dibawanya, walau tak sedikit juga yang terus menyimpang dan tak mau beriman sehingga Allah menurunkan azab yang begitu mengerikan dan sangat pedih.  
g)      Amanat
1)      Yakinlah pada ajaran Allah.
2)      Bersungguh-sungguhlah dalam ibadah.
3)      Bersabar, bertawakal, berserah dirilah hanya kepada Allah.
4)      Kita harus selalu tegar dan kuat dalam menghadapi cobaan.
5)      Taat pada perintah Allah.
6)      Berlaku adillah pada setiap manusia.
7)      Jadilah pemimpin yang baik, adil, dan bertanggungjawab pada rakyatnya.
8)      Jadilah suami yang mendidik istri dan anaknya dengan agama.

 Unsur-unsur Ekstrinsik Novel “Ibrahim Rindu Allah” (Wiwid Prasetyo)
a)      Identitas Novel
Judul: Ibrahim Rindu Allah.
Pengarang: Wiwid Prasetyo.
Editor: Akhmad Muhaimin Azzet.
Tata sampul: Gobaqsodor.
Tata isi: Bambang.
Pracetak: Antini, Dwi, Yanto.
Cetakan pertama: Juni, 2011.
Penerbit: DIVA Press.
Sampangan Gg. Perkutut No. 325-B,
Jl. Wonosari, Baturetno
Banguntapan Jogjakarta
Telp. 0274-4353776, 7418727
Fax. 0274-4353776
Sumber gambar cover: www.alpineinstitute.blogspot.com
Tebal: 435 halaman.
b)      Latar belakang pengarang
               Wiwid Prasetyo atau sering juga menulis dengan nama Prasmoedya Tohari, lahir pada 9 November 1981 di Semarang. Alumnus Fakultas Dakwah IAIN Walisongo, Semarang, pada tahun 2005 sehari-harinya aktif di Majalah FURQONPESANTrendSi Dul (majalah anak-anak), serta tabloid Info Plus Semarang, baik selaku redaktur maupun reporter. Selain itu, ia juga peduli terhadap dunia pendidikan, terbukti masih menjadi pengajar di Bimbingan Belajar Smart Kids Semarang.
               Di sela-sela kesibukannya, ia masih menyempatkan diri untuk menulis beberapa karya dalam bentuk buku. Beberapa karyanya yang sudah terbit adalah Orang Miskin Dilarang Sekolah (DIVA Press, 200), Sup Tujuh Samudra (Bersama Badiatul Rozikin, DIVA Press, 2009), Chicken Soup Asma’ul Husna (Garailmu, 2009), dan Miskin Kok Mau Sekolah…?! (DIVA Press, 2009), Idolaku Ya Rasulullah Saw…! (DIVA Press, 2009), Demi Cintaku pada-Mu (DIVA Press, 2009), Aha, Aku Berhasil Kalahkan Harry Potter (DIVA Press, 2010), The Chronicle of Kartini (DIVA Press, 2010), dan Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu (DIVA Press, 2010).

c)       Nilai yang terkandung
Nilai religius:
Mengajarkan kita untuk berpegang teguh pada keyakinan aqidah ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi utusan Allah, mempercayai ajaran tauhid yang dibawa Nabi-nabi utusan Allah, lebih mendekatkan diri pada Allah, lebih meyakinkan kita pada azab Allah itu akan datang pada suatu kaum yang tidak taat pada ajaranNya.
Nilai sosial:
Mengajarkan kita untuk selalu berprasangka baik terhadap Allah, sesama manusia dan pada makhluk lainnya, mengajarkan untuk tidak menjadi pendendam pada orang lain yang telah memusuhi kita, mengajarkan untuk selalu sabar dalam menghadapi orang-orang yang tak suka kepada kita.
Nilai moral/akhlak:

Mengajarkan untuk selalu sabar dalam beribadah kepada Allah, menjalankan segala perintahNya dengan ikhlas dan tawakkal, mengajarkan untuk jadi pribadi yang lebih baik dalam beribadah, dan menghargai orang lain, mengajarkan untuk menjadi seorang pemimpin yang adil, bijaksana, dan bertanggungjawab.

Analisis Unsur-unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel Pertemuan Dua Hati

Novel “Pertemuan Dua Hati” (Nh. Dini)
Sinopsis Novel “Pertemuan Dua Hati” (Nh. Dini)
Berikut adalah sinopsis novel “Pertemuan Dua Hati”.

Pertemuan Dua Hati
(karya : NH. Dini)
                Bu suci adalah seorang guru SD.  Hampir 10 tahun mengajar di Purwodadi. Dia tinggal bersama Suami, 3 orang anaknya, dan uwaknya. Suaminya bekerja sebagai montir di sebuah perusahaan di  kotanya. Beberapa bulan lalu Suaminya pindah ke Semarang, tepatnya di daerah Mrican.
                Saat masuk ke Sekolah baru di Semarang, ia menemani anak-anaknya ke Sekolah. Dia juga memperkenalkan diri kepada Kepala Sekolah. Sebagai Orang Tua  murid juga sebagai guru yang menunggu pengangKatan. Kepala Sekolah pun memberi penawaran untuk mengajar di Sekolah tersebut. 
                Anak keduanya sakit panas, batuk, dan selesma. Bu Suci membawanya ke Dokter Umum. Setelah beberapa hari, kulitnya ditumbuhi bintik-bintik merah dan terasa gatal. Setelah beberapa hari batuk, selesma, dan bintik-bintik itu hilang kini anaknya merasa sakit kepala. Bu Suci membawanya ke Dokter Perusahaan. Dokter memberinya obat dan menyarankan untuk dibawa ke Rumah Sakit. Setelah lima hari, anak tersebut sehat dan bisa masuk Sekolah lagi.
                Hari pertama Bu Suci memperkenalkan diri kepada murid-muridnya dan mengabsen kehadiran muridnya. Hari itu ada 3 anak yang tidak hadir, salah satunya adalah Waskito. Setelah empat hari mengajar, Waskito belum juga masuk. Bu Suci menanyakan kepada murid-muridnya tentang ketidakhadiran Waskito. Dari murid-muridnya, dia mengetahui bahwa teman-temannya tidak menyukai Waskito. Menurut guru-guru yang pernah mengajar kelas tersebut, mereka menganggap Waskito sebagai murid yang sukar. Kemarahan didorong oleh hati yang kurang perhatian dari keluarganya.
                Bu Suci mengirim surat kepada Nenek Waskito. Sore hari yang telah ditentukan, Bu Suci mengunjungi Rumah Nenek Waskito. Dari Neneknya, dia memperoleh banyak informasi tentang Waskito. Bahwa Waskito pernah dipukul oleh Ayahnya karena dia membolos. Selama berada di Rumah Orang Tuanya dia tidak pernah di tegur, diberi tahu mana yang baik dan buruk. Tetapi selama tinggal 1,5 tahun di Rumah Neneknya, Waskito bersikap manis, sopan, sering mengerjakan tugas rumah, masuk Sekolah secara teratur. Hasilnya Waskito menjadi murid yang pandai. Rapornya menunjukan kemajuan. Namun, Orang Tuanya mengambilnya kembali.
                Sementara itu, Suami Bu Suci menyampaikan kertas-kertas hasil pemeriksaan kesehatan anaknya. Menurut Dokter Perusahaan anak keduanya harus dibawa ke Dokter Syaraf/Neurolog. Berhari-hari Bu Suci dan anaknya mondar-mandir Rumah Sakit untuk menjalani serangkaian pemeriksaan anaknya. Hasilnya, ternyata anaknya menderita penyakit Ayan/Sawan/Epilepsi. Setelah anaknya sembuh, Bu Suci mengunjungi Nenek Waskito untuk kedua kalinya. Neneknya menceritakan bahwa kini Waskito tinggal bersama budenya.
                Pada suatu hari Waskito masuk Sekolah. Di hari itu Bu Suci meminta beberapa orang siswanya untuk berpindah tempat duduk. Ia juga meminta Waskito untuk pindah namun Waskito tidak mau. Suatu hari Sekolah melaksanakan pelajaran turun ke Lapangan. Guru-guru dan murid-murid mengunjungi Pabrik Makanan. Terlihat, Waskito aktif bertanya tentang mesin pembuat makanan. Bu Suci membentuk kelompok-kelompok di Kelasnya. Setiap kelompok diberi tugas untuk membuat bejana berhubungan. Ternyata hasil karya kelompok Waskito yang paling sempurna.
                Bu Suci memberikan tugas kelompok membuat Kebun Binatang. Karya kelompok Waskito yang paling bagus. Selama tiga bulan keadaan tenang, Waskito tidak membuat onar. Pada waktu istirahat, Waskito mengamuk. Guru-guru mengusulkan agar Waskito dikeluarkan dari Sekolah. Bu Suci mempertahankan muridnya tersebut. Dia meminta waktu satu bulan kepada Kepala Sekolah. Kepala Sekolah pun mengabulkan permintaannya.
                Sejak kejadian itu, pada waktu istirahat Bu Suci lebih sering berada di Kelas. Bu Suci pun mengobrol Waskito. Bu Suci merasa lebih deKat dengan muridnya tersebut. Rapor Waskito berikutnya berisi angka-angka yang baik. Waskito tidak pernah mengacau seperti yang dilakukan tempo hari. Bu Suci pun menepati janjinya untuk mengajak Waskito memancing. Waskito ikut memancing sepuas hatinya di Purwodadi bersama keluarga Bu Suci. Pada akhir tahun pelajaran, Waskito naik kelas. Budenya datang ke Sekolah berterimakasih kepada Kepala Sekolah, guru-guru terutama kepada Bu Suci. Atas keuletannya, Waskito menjadi murid yang lebih dari biasa (pandai).

Unsur-Unsur Intrinsik Novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini)
                        Unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini) adalah sebagai berikut.
a)      Tema:
                Tema yang terdapat dalam Novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini) adalah mengenai kehidupan sosial. Temanya yaitu “Seorang Guru yang Giat dan Tekun dalam Mengajar Anak Didiknya.”
b)      Tokoh:
                Dalam Novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini) terdapat beberapa tokoh atau pemain yang terlibat dalam alur ceritanya. Tokoh-tokohnya adalah sebagai berikut.
1)      Bu Suci;
2)      Suami Bu Suci;
3)      3 orang anak Bu Suci;
4)      Uwaknya Bu Suci;
5)      Kepala Sekolah;
6)      Dokter;
7)      Murid-murid SD Semarang;
8)      Waskito;
9)      Guru-guru SD Semarang;
10)   Nenek Waskito;
11)   Bude Waskito; dan
12)   Orang tua Waskito.
                Itulah nama beberapa tokoh yang terlibat dalam novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini).
c)       Penokohan / perwatakan:
                Para tokoh dalam novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini) ini memiliki beberapa karakter atau watak. Berikut akan dijelaskan mengenai karakter para tokoh tersebut.
1)      Bu Suci: (protagonis) baik, penyayang, tanggung jawab, tekun, penurut kepada suami, penyabar, peduli terhadap keluarga, peduli terhadap anak didiknya, dan profesional dalam pekerjaannya.
2)      Suami Bu Suci: (protagonis) tanggung jawab, rajin, pengertian terhadap keluarga, dan penuh perhatian kepada isteri dan anak-anaknya.
3)      3 orang anak Bu Suci:
Anak ke-1 perempuan: lemah lembut dan pengertian.
Anak ke-2 laki-laki: diceritakan mengidap penyakit ayan, penyabar dan tabah.
Anak ke-3 perempuan: diceritakan masih balita.
4)      Uwaknya Bu Suci: sabar dan penuh kasih sayang.
5)      Kepala Sekolah: (protagonis) baik, ramah, bijaksana, tegas, berwibawa, toleran, dan pengertian.
6)      Dokter: baik, ramah, dan profesional dalam bekerja.
7)      Murid-murid SD Semarang: baik dan patuh terhadap guru.
8)      Waskito: (antagonis, menjadi protagonis di akhir cerita). Nakal, sering membolos, suka mengacau di kelas, suka memukuli teman-temannya, sering mengamuk/memberontak, keras, pendiam, dan sulit bergaul, serta kurang perhatian dan bimbingan dari orang tuanya.
9)      Guru-guru SD Semarang: baik, tetapi kebanyakan kurang peduli dan kurang peka terhadap anak didiknya.
10)   Nenek Waskito: penyabar dan ramah.
11)   Bude Waskito: (protagonis) baik, ramah, dan perhatian pada anak.
12)   Orang tua Waskito: (antagonis) kurang peduli terhadap anaknya, suka memukuli anaknya, kurang perhatian, dan tidak mendidik anak dengan baik.
d)      Alur/Plot (jalan cerita):
1)      Pengenalan
                Bu suci adalah seorang guru SD.  Hampir 10 tahun mengajar di Purwodadi. Dia tinggal bersama Suami, 3 orang anaknya, dan uwaknya. Suaminya bekerja sebagai montir di sebuah perusahaan di  kotanya. Beberapa bulan lalu Suaminya pindah ke Semarang, tepatnya di daerah Mrican.
2)      Munculnya Konflik
                Anak keduanya sakit panas, batuk, dan selesma. Bu Suci membawanya ke Dokter Umum. Setelah beberapa hari, kulitnya ditumbuhi bintik-bintik merah dan terasa gatal. Setelah beberapa hari batuk, selesma, dan bintik-bintik itu hilang kini anaknya merasa sakit kepala. Bu Suci membawanya ke Dokter Perusahaan. Dokter memberinya obat dan menyarankan untuk dibawa ke Rumah Sakit. Setelah lima hari, anak tersebut sehat dan bisa masuk Sekolah lagi.
                Setelah ada masalah di rumahnya karena anaknya yang sakit itu, ditambah lagi masalah disekolah tempat ia mengajar. Hari pertama Bu Suci memperkenalkan diri kepada murid-muridnya dan mengabsen kehadiran muridnya. Hari itu ada 3 anak yang tidak hadir, salah satunya adalah Waskito. Setelah empat hari mengajar, Waskito belum juga masuk. Bu Suci menanyakan kepada murid-muridnya tentang ketidakhadiran Waskito. Dari murid-muridnya, dia mengetahui bahwa teman-temannya tidak menyukai Waskito. Menurut guru-guru yang pernah mengajar kelas tersebut, mereka menganggap Waskito sebagai murid yang sukar. Kemarahan didorong oleh hati yang kurang perhatian dari keluarganya.
                Bu suci mendapat tugas yang berat tentunya dengan dihadapkan oleh masalah menangani anak didiknya yang sedikit sukar itu.
3)      Komplikasi (Konflik Memuncak)
                Menurut Dokter Perusahaan anak keduanya harus dibawa ke Dokter Syaraf/Neurolog. Berhari-hari Bu Suci dan anaknya mondar-mandir Rumah Sakit untuk menjalani serangkaian pemeriksaan anaknya. Hasilnya, ternyata anaknya menderita penyakit Ayan/Sawan/Epilepsi.
4)      Klimaks
                Pada waktu istirahat, Waskito mengamuk. Guru-guru mengusulkan agar Waskito dikeluarkan dari Sekolah. Kepala Sekolah pun mengabulkan permintaannya.
5)      Resolusi Atau Penyelesaian Masalah
                Sejak kejadian itu, pada waktu istirahat Bu Suci lebih sering berada di Kelas. Bu Suci pun mengobrol Waskito. Bu Suci merasa lebih deKat dengan muridnya tersebut. Rapor Waskito berikutnya berisi angka-angka yang baik. Waskito tidak pernah mengacau seperti yang dilakukan tempo hari. Bu Suci pun menepati janjinya untuk mengajak Waskito memancing. Waskito ikut memancing sepuas hatinya di Purwodadi bersama keluarga Bu Suci. Pada akhir tahun pelajaran, Waskito naik kelas. Budenya datang ke Sekolah berterimakasih kepada Kepala Sekolah, guru-guru terutama kepada Bu Suci. Atas keuletannya, Waskito menjadi murid yang lebih dari biasa (pandai).
e)      Sudut pandang:
                Novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini) termasuk ke dalam sudut pandang orang petama. Ini dapat dilihat dari cara pengarang menggunakan penyebutan tokoh utama “aku” (sebagai aku-an) di dalam novel.
f)       Gaya Bahasa
                Gaya bahasa yang dipakai dalam novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini) adalah gaya bahasa langsung, yaitu pengarang menceritakan semua peristiwa secara langsung. Gaya bahasa yang terdapat dalam novel ini di antaranya adalah gaya bahasa hiperbola dan metonimia.
                Gaya bahasa hiperbola (misalnya: tercekik oleh keharuan, .......... pastilah mulutku akan terloncat cerita peristiwa dikelas kehadapan rekan-rekanku).
                Gaya bahasa metonimia (misalnya: dalam Kata “membuka hati”.
g)      Latar:
1)      Tempat: Rumah Bu Suci, Sekolah Dasar di Kota Semarang, Purwodadi, Perusahaan, Kota Semarang, Mrican, Ruang Dokter, Ruang Kelas, Rumah Nenek Waskito, Rumah Orang tua Waskito, Rumah Bude Waskito, Rumah Sakit Syaraf, Lapangan Sekolah, dan Pabrik Makanan.
2)      Waktu: pagi, siang, sore, dan malam hari.
3)      Suasana: sabar, prihatin, kesal, bingung, marah, sedih, kacau, dan pada akhir cerita semua senang dan bahagia karena Waskito telah menjadi anak yang baik dan pandai berKat usaha dan keuletan Bu Suci dalam mengajar dan mendidik Waskito.
h)      Amanat:
                Novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini) ini memiliki berbagai pesan yang terkandung didalamnya, pesan atau amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam novel ini adalah sebagai berikut.
1)      Hendaklah bersabar dan tabah dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan cobaan;
2)      Jangan pernah menganggap remeh seseorang;
3)      Jangan pernah melihat seseorang dari sisi buruknya saja;
4)      Rajin dan tekunlah dalam belajar
5)      Bekerjalah secara profesional;
6)      Jadilah orang tua yang selalu peduli kepada anak-anaknya;
7)      Berikanlah perhatian yang baik terhadap keluarga; dan
8)       Jadilah seorang Guru yang selalu sabar dalam mendidik anak didiknya.

 Unsur-Unsur Ekstrinsik Novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini)
a)      Identitas Novel
Judul             : Pertemuan Dua Hati
Pengarang    : N.H.Dini
Penerbit        : PT. Gramedia Pustaka Utama
Warna Cover : Hijau
Tebal Buku  : 85 halaman
b)      Biografi Pengarang
                Pengarang novel ini bernama Nurhayati Sri Hardini Siti NuKatin (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 29 Februari 1936) atau lebih dikenal dengan nama N.H. Dini. Beliau adalah Sastrawati dan Novelis di Indonesia.
                N.H. Dini dilahirkan dari pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah. Ia anak bungsu dari lima bersaudara. Ulang tahunnya dirayakan setiap empat tahu sekali. Masa kecilnya penuh larangan. Konon, ia masih berdarah Bugis. Beliau mengaku mulai tertarik menulis sejak kelas tiga SD. Buku-buku pelajarannya penuh dengan tulisan yang mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Ia sendiri mengakui bahwa tulisannya itu adalah pelampiasan hati.
c)       Nilai-Nilai yang Terkandung
Nilai Moral (sikap dan perilaku)
        Nilai moral pada novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini) terdapat pada halaman 32 alinea 1 yang isinya “... kami semua sepaKat bahwa anak-anak tumbuh tidak hanya memerlukan makanan, mereka juga membutuhkan kemesraan, menginginkan perhatian, rasa cinta kepada mereka yang diperlihatkan, menanamkan benih kekuatan tersendiri........”.
Nilai Sosial
        Hubungan antara seorang guru dengan anak didiknya adalah tidak hanya sebatas memberikan pelajaran dikelas melalui sistem program kurikulum, melainkan seorang guru harus lebih deKat dan penuh kasih sayang tehadap semua anak didknya. Agar dapat melahirkan generasi penerus yang dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.
Nilai Religius
        semua yang terjadi dalam hidup ini adalah kehendak Allah SWT. Manusia hanya mampu berusaha dan berdoa untuk dapat menjalankannya dengan baik dan lancar sesuai rencana.

        Kisah Bu Suci ini adalah sebuah contoh bilamana kita mendapatkan suatu masalah atau cobaan dalam hidup ini, kita harus tetap semangat dalam menjalaninya dan terus berusaha untuk memecahkan masalah dengan cara sabar dan tabah serta terus berdoa pada yang Mahakuasa.