posting

Thursday, January 14, 2016

Analisis Unsur-unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel Pertemuan Dua Hati

Novel “Pertemuan Dua Hati” (Nh. Dini)
Sinopsis Novel “Pertemuan Dua Hati” (Nh. Dini)
Berikut adalah sinopsis novel “Pertemuan Dua Hati”.

Pertemuan Dua Hati
(karya : NH. Dini)
                Bu suci adalah seorang guru SD.  Hampir 10 tahun mengajar di Purwodadi. Dia tinggal bersama Suami, 3 orang anaknya, dan uwaknya. Suaminya bekerja sebagai montir di sebuah perusahaan di  kotanya. Beberapa bulan lalu Suaminya pindah ke Semarang, tepatnya di daerah Mrican.
                Saat masuk ke Sekolah baru di Semarang, ia menemani anak-anaknya ke Sekolah. Dia juga memperkenalkan diri kepada Kepala Sekolah. Sebagai Orang Tua  murid juga sebagai guru yang menunggu pengangKatan. Kepala Sekolah pun memberi penawaran untuk mengajar di Sekolah tersebut. 
                Anak keduanya sakit panas, batuk, dan selesma. Bu Suci membawanya ke Dokter Umum. Setelah beberapa hari, kulitnya ditumbuhi bintik-bintik merah dan terasa gatal. Setelah beberapa hari batuk, selesma, dan bintik-bintik itu hilang kini anaknya merasa sakit kepala. Bu Suci membawanya ke Dokter Perusahaan. Dokter memberinya obat dan menyarankan untuk dibawa ke Rumah Sakit. Setelah lima hari, anak tersebut sehat dan bisa masuk Sekolah lagi.
                Hari pertama Bu Suci memperkenalkan diri kepada murid-muridnya dan mengabsen kehadiran muridnya. Hari itu ada 3 anak yang tidak hadir, salah satunya adalah Waskito. Setelah empat hari mengajar, Waskito belum juga masuk. Bu Suci menanyakan kepada murid-muridnya tentang ketidakhadiran Waskito. Dari murid-muridnya, dia mengetahui bahwa teman-temannya tidak menyukai Waskito. Menurut guru-guru yang pernah mengajar kelas tersebut, mereka menganggap Waskito sebagai murid yang sukar. Kemarahan didorong oleh hati yang kurang perhatian dari keluarganya.
                Bu Suci mengirim surat kepada Nenek Waskito. Sore hari yang telah ditentukan, Bu Suci mengunjungi Rumah Nenek Waskito. Dari Neneknya, dia memperoleh banyak informasi tentang Waskito. Bahwa Waskito pernah dipukul oleh Ayahnya karena dia membolos. Selama berada di Rumah Orang Tuanya dia tidak pernah di tegur, diberi tahu mana yang baik dan buruk. Tetapi selama tinggal 1,5 tahun di Rumah Neneknya, Waskito bersikap manis, sopan, sering mengerjakan tugas rumah, masuk Sekolah secara teratur. Hasilnya Waskito menjadi murid yang pandai. Rapornya menunjukan kemajuan. Namun, Orang Tuanya mengambilnya kembali.
                Sementara itu, Suami Bu Suci menyampaikan kertas-kertas hasil pemeriksaan kesehatan anaknya. Menurut Dokter Perusahaan anak keduanya harus dibawa ke Dokter Syaraf/Neurolog. Berhari-hari Bu Suci dan anaknya mondar-mandir Rumah Sakit untuk menjalani serangkaian pemeriksaan anaknya. Hasilnya, ternyata anaknya menderita penyakit Ayan/Sawan/Epilepsi. Setelah anaknya sembuh, Bu Suci mengunjungi Nenek Waskito untuk kedua kalinya. Neneknya menceritakan bahwa kini Waskito tinggal bersama budenya.
                Pada suatu hari Waskito masuk Sekolah. Di hari itu Bu Suci meminta beberapa orang siswanya untuk berpindah tempat duduk. Ia juga meminta Waskito untuk pindah namun Waskito tidak mau. Suatu hari Sekolah melaksanakan pelajaran turun ke Lapangan. Guru-guru dan murid-murid mengunjungi Pabrik Makanan. Terlihat, Waskito aktif bertanya tentang mesin pembuat makanan. Bu Suci membentuk kelompok-kelompok di Kelasnya. Setiap kelompok diberi tugas untuk membuat bejana berhubungan. Ternyata hasil karya kelompok Waskito yang paling sempurna.
                Bu Suci memberikan tugas kelompok membuat Kebun Binatang. Karya kelompok Waskito yang paling bagus. Selama tiga bulan keadaan tenang, Waskito tidak membuat onar. Pada waktu istirahat, Waskito mengamuk. Guru-guru mengusulkan agar Waskito dikeluarkan dari Sekolah. Bu Suci mempertahankan muridnya tersebut. Dia meminta waktu satu bulan kepada Kepala Sekolah. Kepala Sekolah pun mengabulkan permintaannya.
                Sejak kejadian itu, pada waktu istirahat Bu Suci lebih sering berada di Kelas. Bu Suci pun mengobrol Waskito. Bu Suci merasa lebih deKat dengan muridnya tersebut. Rapor Waskito berikutnya berisi angka-angka yang baik. Waskito tidak pernah mengacau seperti yang dilakukan tempo hari. Bu Suci pun menepati janjinya untuk mengajak Waskito memancing. Waskito ikut memancing sepuas hatinya di Purwodadi bersama keluarga Bu Suci. Pada akhir tahun pelajaran, Waskito naik kelas. Budenya datang ke Sekolah berterimakasih kepada Kepala Sekolah, guru-guru terutama kepada Bu Suci. Atas keuletannya, Waskito menjadi murid yang lebih dari biasa (pandai).

Unsur-Unsur Intrinsik Novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini)
                        Unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini) adalah sebagai berikut.
a)      Tema:
                Tema yang terdapat dalam Novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini) adalah mengenai kehidupan sosial. Temanya yaitu “Seorang Guru yang Giat dan Tekun dalam Mengajar Anak Didiknya.”
b)      Tokoh:
                Dalam Novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini) terdapat beberapa tokoh atau pemain yang terlibat dalam alur ceritanya. Tokoh-tokohnya adalah sebagai berikut.
1)      Bu Suci;
2)      Suami Bu Suci;
3)      3 orang anak Bu Suci;
4)      Uwaknya Bu Suci;
5)      Kepala Sekolah;
6)      Dokter;
7)      Murid-murid SD Semarang;
8)      Waskito;
9)      Guru-guru SD Semarang;
10)   Nenek Waskito;
11)   Bude Waskito; dan
12)   Orang tua Waskito.
                Itulah nama beberapa tokoh yang terlibat dalam novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini).
c)       Penokohan / perwatakan:
                Para tokoh dalam novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini) ini memiliki beberapa karakter atau watak. Berikut akan dijelaskan mengenai karakter para tokoh tersebut.
1)      Bu Suci: (protagonis) baik, penyayang, tanggung jawab, tekun, penurut kepada suami, penyabar, peduli terhadap keluarga, peduli terhadap anak didiknya, dan profesional dalam pekerjaannya.
2)      Suami Bu Suci: (protagonis) tanggung jawab, rajin, pengertian terhadap keluarga, dan penuh perhatian kepada isteri dan anak-anaknya.
3)      3 orang anak Bu Suci:
Anak ke-1 perempuan: lemah lembut dan pengertian.
Anak ke-2 laki-laki: diceritakan mengidap penyakit ayan, penyabar dan tabah.
Anak ke-3 perempuan: diceritakan masih balita.
4)      Uwaknya Bu Suci: sabar dan penuh kasih sayang.
5)      Kepala Sekolah: (protagonis) baik, ramah, bijaksana, tegas, berwibawa, toleran, dan pengertian.
6)      Dokter: baik, ramah, dan profesional dalam bekerja.
7)      Murid-murid SD Semarang: baik dan patuh terhadap guru.
8)      Waskito: (antagonis, menjadi protagonis di akhir cerita). Nakal, sering membolos, suka mengacau di kelas, suka memukuli teman-temannya, sering mengamuk/memberontak, keras, pendiam, dan sulit bergaul, serta kurang perhatian dan bimbingan dari orang tuanya.
9)      Guru-guru SD Semarang: baik, tetapi kebanyakan kurang peduli dan kurang peka terhadap anak didiknya.
10)   Nenek Waskito: penyabar dan ramah.
11)   Bude Waskito: (protagonis) baik, ramah, dan perhatian pada anak.
12)   Orang tua Waskito: (antagonis) kurang peduli terhadap anaknya, suka memukuli anaknya, kurang perhatian, dan tidak mendidik anak dengan baik.
d)      Alur/Plot (jalan cerita):
1)      Pengenalan
                Bu suci adalah seorang guru SD.  Hampir 10 tahun mengajar di Purwodadi. Dia tinggal bersama Suami, 3 orang anaknya, dan uwaknya. Suaminya bekerja sebagai montir di sebuah perusahaan di  kotanya. Beberapa bulan lalu Suaminya pindah ke Semarang, tepatnya di daerah Mrican.
2)      Munculnya Konflik
                Anak keduanya sakit panas, batuk, dan selesma. Bu Suci membawanya ke Dokter Umum. Setelah beberapa hari, kulitnya ditumbuhi bintik-bintik merah dan terasa gatal. Setelah beberapa hari batuk, selesma, dan bintik-bintik itu hilang kini anaknya merasa sakit kepala. Bu Suci membawanya ke Dokter Perusahaan. Dokter memberinya obat dan menyarankan untuk dibawa ke Rumah Sakit. Setelah lima hari, anak tersebut sehat dan bisa masuk Sekolah lagi.
                Setelah ada masalah di rumahnya karena anaknya yang sakit itu, ditambah lagi masalah disekolah tempat ia mengajar. Hari pertama Bu Suci memperkenalkan diri kepada murid-muridnya dan mengabsen kehadiran muridnya. Hari itu ada 3 anak yang tidak hadir, salah satunya adalah Waskito. Setelah empat hari mengajar, Waskito belum juga masuk. Bu Suci menanyakan kepada murid-muridnya tentang ketidakhadiran Waskito. Dari murid-muridnya, dia mengetahui bahwa teman-temannya tidak menyukai Waskito. Menurut guru-guru yang pernah mengajar kelas tersebut, mereka menganggap Waskito sebagai murid yang sukar. Kemarahan didorong oleh hati yang kurang perhatian dari keluarganya.
                Bu suci mendapat tugas yang berat tentunya dengan dihadapkan oleh masalah menangani anak didiknya yang sedikit sukar itu.
3)      Komplikasi (Konflik Memuncak)
                Menurut Dokter Perusahaan anak keduanya harus dibawa ke Dokter Syaraf/Neurolog. Berhari-hari Bu Suci dan anaknya mondar-mandir Rumah Sakit untuk menjalani serangkaian pemeriksaan anaknya. Hasilnya, ternyata anaknya menderita penyakit Ayan/Sawan/Epilepsi.
4)      Klimaks
                Pada waktu istirahat, Waskito mengamuk. Guru-guru mengusulkan agar Waskito dikeluarkan dari Sekolah. Kepala Sekolah pun mengabulkan permintaannya.
5)      Resolusi Atau Penyelesaian Masalah
                Sejak kejadian itu, pada waktu istirahat Bu Suci lebih sering berada di Kelas. Bu Suci pun mengobrol Waskito. Bu Suci merasa lebih deKat dengan muridnya tersebut. Rapor Waskito berikutnya berisi angka-angka yang baik. Waskito tidak pernah mengacau seperti yang dilakukan tempo hari. Bu Suci pun menepati janjinya untuk mengajak Waskito memancing. Waskito ikut memancing sepuas hatinya di Purwodadi bersama keluarga Bu Suci. Pada akhir tahun pelajaran, Waskito naik kelas. Budenya datang ke Sekolah berterimakasih kepada Kepala Sekolah, guru-guru terutama kepada Bu Suci. Atas keuletannya, Waskito menjadi murid yang lebih dari biasa (pandai).
e)      Sudut pandang:
                Novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini) termasuk ke dalam sudut pandang orang petama. Ini dapat dilihat dari cara pengarang menggunakan penyebutan tokoh utama “aku” (sebagai aku-an) di dalam novel.
f)       Gaya Bahasa
                Gaya bahasa yang dipakai dalam novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini) adalah gaya bahasa langsung, yaitu pengarang menceritakan semua peristiwa secara langsung. Gaya bahasa yang terdapat dalam novel ini di antaranya adalah gaya bahasa hiperbola dan metonimia.
                Gaya bahasa hiperbola (misalnya: tercekik oleh keharuan, .......... pastilah mulutku akan terloncat cerita peristiwa dikelas kehadapan rekan-rekanku).
                Gaya bahasa metonimia (misalnya: dalam Kata “membuka hati”.
g)      Latar:
1)      Tempat: Rumah Bu Suci, Sekolah Dasar di Kota Semarang, Purwodadi, Perusahaan, Kota Semarang, Mrican, Ruang Dokter, Ruang Kelas, Rumah Nenek Waskito, Rumah Orang tua Waskito, Rumah Bude Waskito, Rumah Sakit Syaraf, Lapangan Sekolah, dan Pabrik Makanan.
2)      Waktu: pagi, siang, sore, dan malam hari.
3)      Suasana: sabar, prihatin, kesal, bingung, marah, sedih, kacau, dan pada akhir cerita semua senang dan bahagia karena Waskito telah menjadi anak yang baik dan pandai berKat usaha dan keuletan Bu Suci dalam mengajar dan mendidik Waskito.
h)      Amanat:
                Novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini) ini memiliki berbagai pesan yang terkandung didalamnya, pesan atau amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam novel ini adalah sebagai berikut.
1)      Hendaklah bersabar dan tabah dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan cobaan;
2)      Jangan pernah menganggap remeh seseorang;
3)      Jangan pernah melihat seseorang dari sisi buruknya saja;
4)      Rajin dan tekunlah dalam belajar
5)      Bekerjalah secara profesional;
6)      Jadilah orang tua yang selalu peduli kepada anak-anaknya;
7)      Berikanlah perhatian yang baik terhadap keluarga; dan
8)       Jadilah seorang Guru yang selalu sabar dalam mendidik anak didiknya.

 Unsur-Unsur Ekstrinsik Novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini)
a)      Identitas Novel
Judul             : Pertemuan Dua Hati
Pengarang    : N.H.Dini
Penerbit        : PT. Gramedia Pustaka Utama
Warna Cover : Hijau
Tebal Buku  : 85 halaman
b)      Biografi Pengarang
                Pengarang novel ini bernama Nurhayati Sri Hardini Siti NuKatin (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 29 Februari 1936) atau lebih dikenal dengan nama N.H. Dini. Beliau adalah Sastrawati dan Novelis di Indonesia.
                N.H. Dini dilahirkan dari pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah. Ia anak bungsu dari lima bersaudara. Ulang tahunnya dirayakan setiap empat tahu sekali. Masa kecilnya penuh larangan. Konon, ia masih berdarah Bugis. Beliau mengaku mulai tertarik menulis sejak kelas tiga SD. Buku-buku pelajarannya penuh dengan tulisan yang mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Ia sendiri mengakui bahwa tulisannya itu adalah pelampiasan hati.
c)       Nilai-Nilai yang Terkandung
Nilai Moral (sikap dan perilaku)
        Nilai moral pada novel “Pertemuan Dua Hati” (Karya: NH.Dini) terdapat pada halaman 32 alinea 1 yang isinya “... kami semua sepaKat bahwa anak-anak tumbuh tidak hanya memerlukan makanan, mereka juga membutuhkan kemesraan, menginginkan perhatian, rasa cinta kepada mereka yang diperlihatkan, menanamkan benih kekuatan tersendiri........”.
Nilai Sosial
        Hubungan antara seorang guru dengan anak didiknya adalah tidak hanya sebatas memberikan pelajaran dikelas melalui sistem program kurikulum, melainkan seorang guru harus lebih deKat dan penuh kasih sayang tehadap semua anak didknya. Agar dapat melahirkan generasi penerus yang dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.
Nilai Religius
        semua yang terjadi dalam hidup ini adalah kehendak Allah SWT. Manusia hanya mampu berusaha dan berdoa untuk dapat menjalankannya dengan baik dan lancar sesuai rencana.

        Kisah Bu Suci ini adalah sebuah contoh bilamana kita mendapatkan suatu masalah atau cobaan dalam hidup ini, kita harus tetap semangat dalam menjalaninya dan terus berusaha untuk memecahkan masalah dengan cara sabar dan tabah serta terus berdoa pada yang Mahakuasa. 

Analisis Unsur-unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel Surga Juga di Telapak Kaki Ayah

Novel “Surga Juga di Telapak Kaki Ayah” (Safira Atalla)
Sinopsis Novel “Surga Juga Di Telapak Kaki Ayah” (Safira Atalla)
Berikut adalah sinopsis novel “Surga Juga Di Telapak Kaki Ayah”.

“Surga Juga Di Telapak Kaki Ayah”
(Safira Atalla)
                Cinta Ayah tak perlu terdengar dan keluar dari bibirnya. Dia tak butuh kata-kata cinta kasih untuk mengungkapkan cintanya. Tapi dia butuh perbuatan nyata, bahwa dia selalu siap dengan sekian lindungannya bagi anak-anaknya.
                Seorang Ayah tak berlebihan, bahkan merasa tak perlu mengucapkan kata sayang kepada anaknya. Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun, tetapi selalu membutuhkan kehadirannya.
                Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.
                Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret. Ayah selalu tepati janji! Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi sebenarnya lebih menyenangkan. Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka, karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka.
                Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil (mengandungmu), tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi. Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti mengapung diatas air setelah ia melepaskannya. Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya. Ayah mungkin tampak galak dimatamu, tapi dimata teman-temanmu dia tampak baik dan menyayangimu.
                Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup. Ayah benar-benar senang membantu seseorang, tapi ia sukar meminta bantuan. Ayah di dapur. Membuat masakan seperti penjelajahan ilmiah. Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu. Dan hasilnya? Hmmmm” tidak terlalu mengecewakan”.
                Ayah mungkin tidak pernah menyentuh sapu ketika masih muda, tapi ia bisa belajar dengan cepat. Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut. Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu di bahunya, ketika pawai lewat. Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya.
                Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia akan menyatakan rasa tidak setujunya. Ayah percaya orang harus tepat waktu, karena itu dia selalu lebih awal menunggumu. Dan dia tak suka anaknya menunggunya meski hanya sekian detik. Baginya lebih baik menjadi penunggu.

Unsur-unsur Intrinsik Novel “Surga Juga Di Telapak Kaki Ayah” (Safira Atalla)
a)      Tema
            Tema cerita dalam novel ini adalah menceritakan berbagai sosok Ayah yang tangguh dan penuh pengorbanan untuk anak-anaknya.
b)      Penokohan
Tokoh-tokoh dalam novel ini adalah;
1)      Ayah, mengajarkan untuk selalu berbuat baik;
2)      lelaki tua bernama Zhou, bijaksana dan tulus;
3)      anak Zhou, tabah dan sabar;
4)      tetangga Pak Zhou, penuh simpati dan empati;
5)      Ayah, pandai mendidik anak, bijaksana;
6)      Siao Bao, pintar, suka marah-marah, manja;
7)      Ibu, penuh perhatian;
8)      Ayah, sudah tua dan penuh kesabaran;
9)      anak,  gampang bosan dan tidak sabaran;
10)   Charlie Chaplin, aktor komedi Inggris yang multitalent, ayah yang bijaksana;
11)   Geraldine Chaplin, putri Charlie Chaplin;
12)   Sydney Chaplin, saudara perempuan Charlie Chaplin;
13)   Fred Karno, produser film;
14)   Danil, remaja yang pantang menyerah dan bangkit dari keterpurukannya;
15)   Pelatih;
16)   Ayah, selalu mendukung anaknya;
17)   Ayah, perhatian dan sayang terhadap anak-anaknya tanpa membedakan apapun;
18)   Derek Redmond, atlet pelari olimpiade asal Inggris, optimis, pantang menyerah;
19)   Jim, ayah Derek, selalu mendampingi dan mendukung anaknya dalam situasi apapun;
20)   Ayah yang jujur dan berusaha bijaksana menuju jalanNya;
21)   Ayah, dokter dermawan, baik hati;
22)   Ibu, wanita tangguh tanpa keluh;
23)   Bablu Jatav, pria penarik becak berusia 38 tahun, ayah yang penuh tanggung jawab;
24)   Mikio Okada, ayah yang melindungi putrinya dari bencana badai;
25)   Ayah, penyayang dan tulus;
26)   Vina, balita yang masih polos;
27)   Ayah yang rela berkorban;
28)   Anak yang rela dan tabah dengan keputusan ayah;
29)   Danu, ayah yang rela bertahan demi masa depan anak dalam perkawinannya;
30)   John Griffith, ayah yang rela mengorbankan anaknya untuk keselamatan penumpang;
31)   Raymond, anak yang cacat tetapi baik hati dan tidak pernah minder;
32)   Pak Jun Nan, ayah yang berjuang dan berkorban untuk sang anak;
33)   Istri pak jun nan, baik dan setia;
34)   Pramugari, baik hati, ramah, dan penyayang;
35)   Ayah yang akan melakukan apapun demi tanggung jawab merawat anaknya; dan
36)   Ayah yang hebat karena perjuangan merawat anaknya untuk tidak hidup seperti dia kelak dengan penuh tulus dan cinta.
c)       Alur
    Alur cerita dalam novel ini adalah alur maju.
d)      Sudut pandang
    Sudut pandang cerita dalam novel ini adalah sudut pandang orang ketiga.
e)      Gaya bahasa
            Gaya bahasa yang digunakan mudah dimengerti dan dipahami oleh pembaca. Gaya bahasanya menceritakan cerita dalam novel ini adalah menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dicerna makna dan artinya jadi pembaca  tidak kebingungan mengartikan makna ceritanya.
f)       Latar
Latar tempat; Sebuah Gunung, Rumah, Sebuah Desa, Kerajaan, Medan Perang, Di Halaman, Dalam Rumah, Rumah Penampungan Orang Miskin, Lambeth, London, Gedung Teater, Kota Kecil, Lapangan Sepak Bola, Stadion, Korea, Pasar Malam, India, Kota Bharatpur, Jepang, Mall Ambassador, Perjalanan, Mcdonald Arion, Rumah Sakit Bunda, Jakarta Timur, Halte, Kamar, Spanyol, Kantor Surat Kabar, China, Beijing, kebun, kantor, dan Sekolah Dasar.
Latar waktu; Suatu hari, siang hari, beberapa bulan kemudian, malam hari, pagi di hari Minggu, sore hari, hari Sabtu, hari Selasa, olimpiade barcelona 1992, 1998, setiap hari pukul 4 pagi, hari senin, pukul 6.45, pukul 11.40, hari kamis malam, tanggal 21 November 2010, dan pukul 12 siang.
Latar suasana; suasana haru, sedih, suka cita, duka cita, bingung, bangga, kagum, bahagia, dilema, menghargai, dan penuh pengorbanan dari figur ayah.
g)      Amanat
Amanat yang terkandung dalam cerita novel ini adalah;
1)      Sayangilah kedua orang tua kita;
2)      jangan menanam keburukan karena kelak akan ada balasannya;
3)      kita sebagai manusia baiknya menerima semua yang telah digariskan tuhan, suka duka ikhlas menjalaninya tanpa keluh dan perhitungan;
4)      jangan selalu marah-marah kepada orang lain karena ucapan kemarahan dan suatu kebencian kepada orang lain akan meninggalkan luka meskipun telah berulang kali meminta maaf;
5)      belajarlah untuk mengontrol diri kita;
6)      bersabarlah dalam menjalani semua fase kehidupan;
7)      rajinlah bersedekah;
8)      selalu berikap rendah hati walau sedang berada di atas;
9)      jangan pernah menyerah untuk jadi juara dan menggapai impian;
10)   hargailah pemberian orang lain sebab kita tak tahu semua itu akan mendatangkan suka atau duka;
11)   jika ingin mendapatkan cinta dan teman dalam hidup, maka minta da pesanlah pada yang MahaCinta, yang menciptakan Cinta itu ada;
12)   turutilah nasihat orang tua;
13)   jagalah ucapan agar tidak menyakiti hati;
14)   sebaiknya telaah dulu tentang diri sendiri sebelum menilai tentang diri orang lain; dan
15)   sadarilah kesalahan diri yang terus menerus menggunung tinggi.
Unsur-unsur Ekstrinsik Novel “Surga Juga Di Telapak Kaki Ayah” (Safira Atalla)
a)      Identitas Novel
Judul: Surga Juga di Telapak Kaki Ayah
Penulis:  Safira Atalla
Penyunting: Puji Lestari
Perancang sampul: F. S. Setiawan Edy
Penata letak: Robin
Penerbit: CV. Ilmu Padi Infra Pustaka Makmur,  Telp. 021-99930633, Email: penerbitpadi@gmail.com
Cetakan 1: Jakarta: Padi, 2013
Tebal: 13 cm x 19 cm, 216 halaman
ISBN: 978-602-1595-11-4    
b)      Latar belakang pengarang
-
c)       Nilai yang terkandung
Nilai Sosial;
1)      Seimbangkanlah waktu antara dengan keluarga dan dengan pekerjaan, jangan sampai kita menyesal karena kehilangan keluarga yang sangat berharga dan dicintai;
2)      Menjaga mulut dari ucapan agar tidak menyakiti orang lain itu lebih baik daripada mengucapkan jujur tapi sangat tidak manusiawi; dan
3)      Menghargai orang lain itu adalah perilaku yang membuat anda juga dihargai nantinya.
Nilai moral;
1)      Mengajarkan untuk selalu berbuat baik supaya kelak mendapat balasan kebaikan juga dalam hidup ini, karena hasil yang akan dipetik sesuai dengan apa yang kita tanam;
2)      Jadilah manusia suci dan satu hati karena lapar menerima sedekah dan mati dalam kemiskinan adalah seribu kali lebih mudah dari pada kehinaan dan tidak memiliki perasaan; dan
3)      Ternyata warisan jiwa sangat berarti dan lebih bermakna untuk diterapkan dalam kehidupan yang akan mengiringi skenario Tuhan, dan perbuatan baik akan membuahkan kebaikan juga.
Nilai religius;
1)      Bersyukurlah atas nikmat diberikannya orang tua yang selalu menyayangi tanpa bandingan apapun, tangguh tanpa keluh apapun, bertanggung jawab, bijaksana dan penuh cinta kasih kepada kita selaku anak yang tidak jauh hanya merepotkan mereka dengan segala rengekan dan permintaan yang terkadang menyusahkan;
2)      Bertawakal setelah kita semampunya berusaha dalam hidup itu mengagumkan daripada hanya banyak bicara tanpa usaha apapun;
3)      Manusia ibarat orang cacat yang melakukan segala sesuatu itu tanpa sempurna, tapi terkadang keluarga tetap menerima karena cinta kasih yang besar. Manusia yang selalu dilakukannya adalah kesalahan, ketidaksempurnaan menjalani fase kehidupan, keburukan, perbuatan terlarang, amal yang kurang, tetapi ampunan Tuhan dan rahmatNya melangit luas walau dosa telah menggunung tinggi;
4)      Menjalani hidup yang terkadang tak sesuai dengan keinginan adalah hal yang membosankan karena tidak adanya perubahan, tetapi keikhlasan akan mengantarkan untuk mendapat keridhaanNya;
5)      Mengajarkan untuk selalu menerima yang telah digariskan Tuhan dengan selalu bersyukur karena hidup pada hakikatnya adalah suka dan duka dan semua ada hikmah dibaliknya;
6)      Jangan melupakan Tuhan dan wajib selalu bersyukur kepada Tuhan atas apa yang telah diberikan, sisihkanlah untuk orang-orang yang sangat mebutuhkan; dan
7)      Semua yang dimiliki adalah titipan Tuhan maka harus dijaga dengan baik.
Nilai pendidikan;
1)      Mengajarkan untuk selalu sabar dalam menjalani semua fase kehidupan yang terkadang membosankan dan ingin lari dari kenyataan, jangan putus asa dan patah semangat;
2)      Selalu berjuanglah karena semangat dan keyakinan adalah kunci keberhasilan;
3)      Mengorbankan sesuatu yang dimiliki terkadang sangat berat, tetapi jika yang dikorbankan akan mendatangkan suatu kebaikan dan melahirkan generasi baik maka itu lebih baik daripada mengutamakan kepentingan pribadi; dan

4)      Satu ayah akan lebih berharga daripada 100 guru di sekolah (George Herbert), Jangan menghabiskan waktu untuk kerja terus menerus, tapi kasihilah dan sayangi keluarga terutama anak-anak karena mereka butuh ajaran dari figur ayah yang selalu menenangkan dalam situasi apapun.