Assalamu'alaikum Wr. Wb.
#selfReminder
aku tahu tak ada manusia yang sempurna di dunia ini. aku menyadari hal itu, menyadari bahwa aku adalah salah satu dari manusia yang tidak sempurna itu. kesempurnaan hanya milik Allah SWT, sesungguhnya Dia adalah yang MahaSempurna.
akhlakku yang sering kali fluktuasi yang menyebabkan ketidaksempurnaan diri. seringkali lupa pada Dia yang selalu memberi kenikmatan juga orang-orang terkasih yang siap sedia melayani segala kebutuhan ini. tapi apa? aku malah ingkar dengan semuanya.
tangisan ini kadang tak berarti saat aku sesali semua perbuatanku yang terkadang lupa akan nikmatMu dan malah senang hidup di dunia dengan munafik. maafkan aku Tuhan.
Ayah, bu, aku minta maaf karena aku sudah membuat kalian menderita dan diri aku ditanami duri.
hari ini, aku bertanya pada diriku sendiri. sampai kapankah aku seperti ini? akankah aku menjerumuskan diri pada neraka yang panas bersama orang tuaku? oh, TIDAK.
Ayah Ibu... semoga dengan berbagai motivasi aku akan menjadi lebih baik. doakan aku ya untuk selalu siap menghadapi semua tantangan ini. karena sesungguhnya kemenangan datang setelah bisa melewati berbagai tantangan yang menghadang diri.
Tuhan....
mohon ampuni dosa-dosa ini dan dosa orang tuaku. lindungi setiap langkah kami mencapai ridhoMu.
sehatkan orang tuaku hingga nanti aku bisa hidup bahagia bersama mereka kelak tertawa untuk tersenyum karena aku move on menjadi lebih baik.
didikan ini tak akan pernah ku lupa. hingga nanti aku wisuda semoga kalian selalu bersamaku.
"ayo semangat untuk berubah dan lebih baik untuk masa depan"
kebahagiaan tak akan datang jika tak dijemput dengan usaha...
your daughter
...
Sunday, February 21, 2016
Thursday, January 14, 2016
Analisis Unsur-unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Drama Tak Ada Bintang di Dadanya
Drama “Tak
Ada Bintang Di Dadanya” (Hamdy Salad)
Sinopsis
Drama “Tak Ada Bintang Di Dadanya” (Hamdy Salad)
“Tak Ada
Bintang Di Dadanya”
(Hamdy
Salad)
Suatu
pagi sehabis subuh Pak Hasan sedang duduk di ruang kerjanya. Ia sedang
memeriksa PR murid-muridnya dengan diterangi lampu belajar. Ia juga ditemani
radio yang mengumandangkan lagu-lagu qasidahan. Kemudian istrinya datang
membawakannya kopi dan meletakkan kopi itu di atas meja.
Istrinya
menyuruh Pak Hasan untuk istirahat dulu sejenak, karena ia terus saja mengurus
pekerjaannya setelah pulang dari luar kota kemarin. Lalu, Pak Hasan menjawab
dan menjelaskan bahwa melaksanakan tugas dan kewajiban itu juga seperti
jalan-jalan yang menyehatkan badan, hati, juga pikiran. Pak Hasan lanjut
menjelaskan, bahwa pekerjaannya itu adalah masalah penting yang membahas agama.
Jadi, mesti diperiksa dengan benar. Ia tak mau kalau murid-muridnya itu menjadi
generasi yang rusak karena gurunya yang mengoreksi soal-soal yang penting dan
fundamen saja seperti main-main.
Istrinya
mengobrol sambil melanjutkan meyapu lantai. Istrinya pun berbicara kalau
baiknya Pak Hasan bekerja seadanya saja tanpa membedakan apakah itu matematika,
ekonomi, atau agama, karena sama-sama pelajaran di sekolah.
Pak
Hasan pun menjelaskan kembali kalau itu beda urusannya. Kalau matematika yang
salah, itu bisa diperbaiki. Tetapi kalau soal agama, bisa bahaya jika ada
kesalahan, karena masuk ke dalam hati. Salah sedikit saja akan mempengaruhi
tingkah laku anak. Pelajaran agama itu juga masalah hati, masalah moral bangsa,
masalah kehidupan dunia dan akhirat. Jadi, bukan sekadar angka, tidak bisa
disamakan dengan matematika atau pelajaran lainnya.
Setelah
menyimak penjelasan dari Pak Hasan, istrinya pun mengerti bahwa jika ada
kesalahan dalam memahami dasar-dasar agama, bisa jadi salah seumur hidup.
Karena pandangan itulah Pak Hasan selalu berusaha untuk serius. Walau dia tahu,
serius atau tidak serius, gaji guru akan tetap saja. Pak Hasan benar-benar
menyadari kewajibannya dengan selalu bersikap ikhlas, teliti, dan bukan
seenaknya sendiri.
Kemudian,
istrinya mengingatkan lagi kalau kesehatan Pak Hasan juga perlu diperhatikan
agar tetap bisa menjalankan tugasnya sebagai guru. Kalau Pak Hasan sakit,
istrinya akan kerepotan dan anaknya yang masih kuliah di luar kota akan merasa
khawatir dengan keadaan Ayahnya.
Perbincangan
mereka pun terputus karena tercium bau gosong di dapur akibat masakan istrinya yang
lama ditinggal ngobrol. Istri Pak Hasan pun pergi ke dapur untuk melihat
masakannya dan Pak Hasan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Pak
Hasan masih terlihat memeriksa PR sampai ia menguap berkali-kali dan tiba-tiba
tertidur. Dalam tidurnya Pak Hasan bermimpi didatangi tiga orang anak didiknya
dulu yang berpenampilan seperti preman yang hendak merampok. Dalam mimpinya,
anak pertama berbicara seolah
menyalahkan sosok Pak Hasan sebagai seorang guru yang dulunya mengajarkan
mereka untuk bersikap baik hati, selalu ikhlas, dan bersyukur. Tetapi, pada
kenyataannya mereka masih hidup dalam kemiskinan bahkan menderita. Lalu, anak
kedua juga berbicara dan menyalahkan Pak Hasan karena mengajarkan untuk hidup
sederhana, tidak boleh mencuri, dan tidak boleh mengambil hak orang lain, serta
tidak boleh pacaran. Kemudian, anak ketiga pun menyalahkan Pak Hasan dan
mengusulkan untuk menghabisi Pak Hasan dan membuangnya saja karena telah
membuat mereka menderita. Dalam mimpinya juga, Pak Hasan dimaki-maki dan dihina
serta disalahkan karena menjadi seorang guru yang hanya bisa ngomong saja yang
baik-baik tetapi dengan berbuat baik mereka tetap saja hidup dalam kemiskinan
dan menderita kesusahan.
Setelah
itu, tiba-tiba Pak Hasan dikagetkan dengan kedatangan istrinya yang
membangunkannya. Istrinya juga memberi tahu kalau ada tamu diluar yang
menunggunya. Pak Hasan masih kaget dengan mimpinya. Lalu, ia menceritakan
kepada istrinya bahwa ia baru saja mimpi buruk karena di mimpinya ia didatangi
oleh murid-muridnya yang malah menjadi preman dan menyalahkan pengajaran agama
yang disampaikannya kepada mereka. Istrinya mencoba menenangkan Pak Hasan
dengan menjelaskan kalau mimpi itu hanya bunga tidur, bisa saja dalam
kenyataannya kita akan mengalami yang sebaliknya dari mimpi itu.
Tamu
mereka pun sudah lama menunggu di luar. Istrinya Pak Hasan lalu membukakan
pintu. Para tamu pun masuk. Ternyata yang datang adalah murid-muridnya Pak
Hasan. Mereka tahu kalau hari itu Pak Hasan tidak ada kelas untuk mengajar,
maka mereka pun datang ke rumahnya dengan meminta izin terlebih dahulu kepada
pihak sekolah. Pak Hasan pun heran dengan kedatangan muridnya. Ia takut kalau
mimpinya menjadi kenyataan. Perbincangan mereka pun terhenti saat Istri Pak
Hasan masuk dan membawakan minuman untuk para tamunya. Setelah meletakkan
gelas-gelas itu, istri pak Hasan pun kembali ke dapur untuk membereskan
pekerjaannya.
Pak
hasan pun semakin takut dengan mimpi buruknya yang menjadi kenyataan karena
muridnya yang datang tidak langsung memberitahukan maksud dan tujuan kedatangan
mereka ke rumah Pak Hasan. Lalu, salah satu anak muridnya memberikan amplop
pada Pak Hasan. Pak Hasan pun semakin bingung.
Tiba-tiba anak muridnya yang lain masuk,
ternyata mereka sudah menunggu di luar rumah beberapa orang. Mereka membawakan
kue ulang tahun, meniupkan terompet dan memberikan hadiah kepada Pak Hasan. Pak
hasan terkejut dan merasa senang ternyata mimpinya tidak menjadi nyata.
Pak
hasan mengucapkan terima kasih kepada anak muridnya yang telah mengingat
kelahirannya. Tetapi ia menjelaskan bahwa yang lebih baik itu bukan mengingat
kelahiran tetapi hari kematian. Pak Hasan juga mengingatkan kepada mereka untuk
terus beribadah karena ajal atau hari kematian itu tidak akan ada yang tahu,
maka kita sebagai manusia harus bisa menjalankan ibadah kepada sang pencipta
dimana pun dan kapan pun. Supaya kita tidak menyesal nantinya.
Lalu,
Pak Hasan pun membuka hadiah dari muridnya. Ternyata isinya adalah foto Pak
Hasan yang memiliki simbol bintang di dadanya. Tetapi, Pak Hasan menyuruh
muridnya untuk melepaskan simbol bintang itu dengan alasan bintang itu untuk
pangkat jendral. Sedangkan, ia bukan jendral, bukan juga pahlawan perang. Maka
dari itu, lambang bintang itu bukan untuk dirinya yang hanya sebagai Guru.
Salah satu muridnya pun melepaskannya dan memberikan hadiahnya kepada Pak
Hasan.
Alasan
Pak Hasan menyuruh menanggalkan lambang bintang dari fotonya adalah tak lain ia
merasa hanya sebagai guru agama yang tak pantas mendapatkan bintang di dalam
gambar fotonya, karena tugasnya hanyalah mengajarkan ilmu agama kepada
anak-anak muridnya. Semua itu dilakukan karena ibadah dan mengharapkan pahala
dari Tuhan. Mengajar itu menurut Pak Hasan bukan untuk mendapatkan bintang.
Tetapi, itu semua tugas dan kewajibannya sebagai guru agama.
Anak-anak
muridnya pun mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak hasan karena telah
banyak mengajarkan hal-hal baik kepada mereka soal moral, etika, dan terutama
agama yang akan dibawa dalam kehidupan mereka dunia dan akhirat kelak.
Analisis
Unsur-unsur Intrinsik Drama “Tak Ada Bintang Di Dadanya” (Hamdy Salad)
a)
Tema
Tema yang diangkat dalam cerita drama ini
adalah “Seorang Guru yang Begitu Perhatian dan Peduli kepada Murid-muridnya Terutama dalam Moral
dan Etika”.
b)
Plot atau
Alur
Plot atau alur cerita drama ini adalah alur
maju.
c)
Tokoh dan
Penokohan
1)
Pak Hasan, seorang
guru agama yang baik hati, selalu mengajarkan kebaikan pada murid-muridnya,
tidak pernah capek dalam bekerja, tidak pernah putus asa, pantang menyerah, dan
selalu serius juga teliti dalam menjalankan tugas dan kewajibannya.
2)
Istri Pak Hasan, baik hati,
penyayang, perhatian kepada suaminya, tetapi sedikit kurang mengerti soal tugas
dan kewajiban dalam pekerjaan yang menganggap tugas guru itu hanya main-main
dan menyepelekan pekerjaan suaminya.
3)
Tiga anak dalam mimpi, berperan
antagonis yaitu anak-anak nakal yang tidak punya sopan santun, tidak beretika,
tidak tahu diri, dan mereka orang-orang yang menyalahkan jasa guru mereka
sendiri.
4)
Bu Amir, tetangga
Pak Hasan, ia seorang dosen dan juga berteman baik dengan Istri Pak Hasan.
5)
Midun, tokoh
yang diceritakan Istri Pak Hasan yang mempunyai perangai tidak baik dan seorang
narapidana.
6)
Anak-anak Pak Hasan yang
sedang kuliah di luar kota,
7)
Murid-murid pak Hasan.
d)
Latar
Latar tempat; di rumah
Pak Hasan, di dalam mimpi, di luar kota, dan di dapur.
Latar waktu; pagi hari sehabis subuh, kemarin,
pagi menjelang siang.
Latar suasana; penuh
semangat dalam bekerja yang dialami dan dijalani pak hasan, tiba-tiba menjadi
kaget dan ketakutan karena pak hasan alami mimpi buruk dan mengerikan karena
muridnya yang ingin mencoba mencelakainya, tapi berubah menjadi bahagia dan
bangga ternyata mimpinya tak menjadi kenyataan, ternyata pada hari itu pak
hasan ulang tahun dan mendapat hadiah serta doa dari murid-muridnya.
e)
Amanat
1)
Jadilah guru yang baik, yang bisa
dijadikan panutan oleh murid-muridnya, yang mengajarkan banyak hal baik pada
orang lain, dan bekerja sesuai tugas dan kewajibannya tanpa mengharap imbalan
apapun karena dilakukannya dengan ikhlas.
2)
Jangan membicarakan kejelekan orang
lain
3)
Jadilah murid yang baik dan hormat
kepada guru
4)
Ingatlah semua pengorbanan dan jasa
guru kepada kita, karena tanpa mereka kita tidak akan pernah mencapai semuanya
sampai akhir dan meraih tujuan yang kita inginkan.
Analisis
Unsur-unsur Ekstrinsik Drama “Tak Ada Bintang Di Dadanya” (Hamdy Salad)
a)
Latar
Belakang Kehidupan Pengarang
-
b)
Nilai-nilai
yang terkandung
Nilai moral;
Haruslah ingat kepada jasa-jasa guru yang
telah mengantarkan kita mencapai berbagai impian dan cita-cita
Nilai sosial;
Bersikap sopan dan hormatlah kepada guru-guru
kita walau kita sudah menjadi alumni, tapi jasanya akan tetap ada dan terkenang
dalam hati sanubari.
Nilai religius;
Dalam menjalankan semua tugas dan kewajiban
kita harus ikhlas, jangan mengharapkan imbalan apapun yang akan kita terima.
Cukup dengan mengharapkan pahala dari Tuhan YME dan semua yang kita lakukan
diniatkan untuk ibadah semata kepada Allah.
Nilai pendidikan;
Sampaikanlah berbagai kebaikan pada sesama
tanpa mengharapkan imbalan dan upah apapun. Melalui cerita ini kita dididik
untuk dapat menghormati guru, teman, dan sesama kita dengan baik. Bukan dengan
menyalahkan semua yang telah diberikan orang lain pada kita, karena itu semua
tak berguna, itu hanya menandakan lemahnya iman saat menjalani kehidupan yang
fana ini.
Analisis Unsur-unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Drama Kotak Surat Terakhir
Drama “Kotak
Surat Terakhir” (Mochamad Asrori)
Sinopsis
Drama “Kotak Surat Terakhir” (Mochamad Asrori)
“Kotak Surat
Terakhir”
(Mochamad
Asrori)
Suatu
hari Re, Yo, dan Ed mendapat kiriman surat dari Ayahnya, Seno.
”Aku tak perlu mengingatkan lagi
sudah berapa pucuk surat yang telah kulayangkan. Ini adalah surat terakhir
yang kutulis. Surat ini bukan instruksi, surat ini adalah amanat.
Patuhilah. Sebagai surat terakhir, mungkin ini adalah kepatuhanmu yang
terakhir kali pula. Pulanglah dan cobalah bahagiakan Ibumu di hari
ulang tahunnya. Dari seorang yang selama ini kau panggil ayah”.
Mereka
bertiga membaca surat itu, tetapi Ed malah meremas surat itu dalam kepalan lalu berteriak dan
meninju sansak di sampingnya. Sementara Re mencampakkan
surat ke tanah, mengambil palet dan kuas, dengan
geram, gerakan tangannya cepat menggores
kanvas disampingnya. Lain lagi dengan Yo yang dengan
pelan
melipat surat dan menyelipkan di buku tebal yang ada di depannya.
Sementara
di Garasi rumah, Seno dan Gun, adiknya, sedang membahas mengenai kotak surat
yang dibuat oleh Seno. Seno pun dengan bangga memperlihatkan karyanya kepada
Gun. Tetapi Gun terlihat menilai biasa saja terhadap karya tersebut. Itu
hanyalah kotak surat biasa, pikir Gun. Tetapi Seno ngotot untuk menyuruh Gun
menilai lebih jauh lagi. Gun merasa ada yang aneh dengan kakaknya ini, karena
dia seolah kehilangan akal, bersikap tak seperti biasanya dengan terus
memperhatikan karya sebuah kotak surat itu.
Ternyata
Seno bangga terhadap karyanya adalah karena bahan yang digunakan adalah
terobosan baru yaitu bahan metalion
delirium polyester. Gun masih tetap merasa aneh
terhadap tingkah laku kakaknya tersebut. Lalu, Gun pun menyuruh Seno untuk
terbuka kepadanya, dia penasaran tentang apa yang ada dalam hatinya. Kemudian
Seno marah, dia tersinggung karena dianggap gila dan menyuruh Gun untuk pergi
meninggalkannya sendiri di dalam Garasi itu.
Keesokan
harinya, Ed dan Yo mengunjungi kosan adiknya, Re. Mereka terlihat akan pergi ke
suatu tempat. Sementara itu, di halaman rumahnya, Seno sedang asyik memasang
kotak surat buatannya itu. Kemudian istrinya menghampiri Seno. Mereka
berbincang ria menikmati pagi yang cerah. Seno juga kembali menjelaskan tentang
kotak surat itu bahwa kotak surat itu terbuat dari bahan sintetis penemuan terbaruku.
Bahan tersebut akan membuat kotak suratnya tak lekang dimakan usia. Tidak
akan berkarat dan rusak. Konstruksinya sangat kokoh. Hujan badai tak akan
menggoyahkanya. Tendangan bola nyasar anak-anak tidak akan membuatnya bergetar, apalagi
pesok seperti nasib kotak surat kita sebelumnya. Kotak
surat ini juga anti air, setetes pun air tak akan mampu meresap ke dalam.
Surat-surat dalam kotak tidak akan rusak, akan selalu aman terjaga. Suhu
di dalamnya juga akan tetap terjaga. Sesuai dengan kebutuhan kertas
surat. Panas tidak akan berpengaruh sama sekali. Warnanya akan selalu
baru, tak akan mengelupas atau luntur dalam lima dekade. Garansi. Satu hal
lagi, aromanya. Aroma kotak surat ini sangat berbeda dengan kotak surat
dari kayu atau logam. Lebih harum. Begitulah penjelasan
Seno kepada istrinya.
Istrinya
pun sudah mengira kalau suaminya itu merindukan anak-anaknya sehingga dia
memperbaiki kotak surat yang sebelumnya rusak. Tapi, Seno tak mengaku kalau
dirinya memang merindukan anak-anaknya. Tak lama istrinya mengajak Seno untuk
sarapan. Mereka pun masuk ke dalam rumah untuk sarapan.
Ternyata
perjalanan ketiga anak Seno itu mengalami hambatan. Mereka kecelakaan dan
mobilnya masuk ke hutan. Mereka tak tahu harus minta pertolongan kemana, karena
disana tak terlihat ada orang yang bisa menolong mereka. Mereka pun terpaksa untuk
menunggu sampai fajar tiba. Yo memulai pembicaraan kepada Re,menanyakan seputar
kuliahnya. Re pun menjawab bahwa semuanya baik. Tetapi, mereka masih
mengkhawatirkan mobil Ayahnya yang tergores, dan banyak kerusakan karena
kecelakaan itu.
Mereka
memikirkan untuk membeli kado ulang tahun ibunya. Ed pun menyarankan untuk
membeli bunga saja nanti di perjalanan. Tetapi, Re membantah karena bunga
seperti kado untuk orang sakit. Ed pun mengumpulkan kayu-kayu untuk membuat
perapian di hutan. Sementara Yo mengobati lukanya yang dibantu oleh Re.
Besoknya, mereka melanjutkan perjalanan.
lalu,
di ruang makan.
saat istrinya sibuk membenahi meja makan dan menata hidangan Seno muncul
membawa kue tar lengkap dengan lilin berbentuk angka 40. sambil berjalan
mendekati istri, seno menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Setelah
selesai, istrinya meniup lilin tersebut dan memberi ciuman pada seno. Istrinya mengucapkan terima kasih pada Seno.
Seno
pun merasa kalau yang seharusnya membawakan kue adalah anak-anaknya, tetapi
mereka belum juga datang. Terlihat Seno sangat sedih, tetapi dengan semangatnya
ia pun langsung sadar dan mengatakan walaupun dia sudah tua dan rambutnya
memutih, dia akan baik-baik saja dan sehat seperti sekarang ini. Rencana Seno
menyuruh anak-anaknya pulang adalah untuk mendampingi, menghibur, dan
meramaikan rumah jika nanti waktunya hidup sudah habis, begitu pikirnya.
Ed, Yo, dan Re sudah
menginjak halaman rumah ayah mereka. Akhirnya mereka
sampai dan buru-bur menemui Ibu mereka. Mereka masuk ke dalam, takut Ayahnya
marah karena mobilnya banyak tergores. Lalu, mereka melihat sebuah kotak surat
yang di buat Ayahnya tempo hari. Tapi, ada sedikit keanehan pada kotak surat
itu setelah mereka teliti. Ternyata kotak surat itu tak mempunyai lubang
suratnya.
Mereka berpandang-pandangan
heran. Tapi tak lama mereka kemudian berpaling ke arah pintu rumah.
Bersama-sama mereka berteriak.
Ayah....
Ibu.... Kami pulang….
Analisis
Unsur-unsur Intrinsik Drama “Kotak Surat Terakhir” (Mochamad Asrori))
a)
Tema
Tema
pada cerita ini adalah “kerinduan seorang Ayah pada anak-anaknya” atau “kotak
surat terakhir yang dibuat Ayah untuk anak-anaknya”.
b)
Plot atau
Alur
Plot atau Alur cerita drama ini adalah alur
maju.
c)
Tokoh atau
Penokohan
1)
Seno, 45 tahun, penampilan jauh lebih tua dari usianya, baik hati, tetapi merasa
kesal terhadap anak-anaknya yang sudah lama tak pulang menjenguknya.
2)
Gun, 42 tahun, adik Seno, perhatian pada kakaknya.
3)
Istri, 40 tahun, istri Seno, baik hati, sayang terhadap keluarga.
4)
Ed, 20 tahun, anak pertama Seno-Istri, taruna polisi
5)
Yo, 19 tahun, anak kedua Seno-Istri, mahasiswa tingkat awal fakultas
kedokteran
6)
Re, 18 tahun, anak ketiga Seno-Istri, mahasiswa tingkat awal fakultas
seni
d)
Latar
Latar tempat; di Kosan,
di rumah, di halaman dan kebun rumah, di ruang makan, di perjalanan, dan di
hutan.
Latar waktu; suatu hari, pagi, siang, dan malam
hari.
Latar suasana; kerinduan
yang mendalam dari Ayah untuk anak-anaknya, kesal karena saudara bertiga itu
kurang akur dan rencana Ayahnya untuk menyuruh mereka pulang dalam satu mobil,
bahagia karena Istrinya ulang tahun dibawakan kue oleh suaminya, Seno. Suasana
sedih, karena ketiga saudara itu mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang
menuju rumah ayahnya, kebersamaan mereka terjalin kembali dengan harmonis atas
kejadian itu. Suasana heran saat melihat kotak surat yang tak memiliki lubang
surat, ternyata itu adalah kotak surat terakhir yang di buat Ayah untuk
anak-anaknya.
e)
Amanat
Amanat yang terkandung dalam cerita drama ini
adalah;
1)
Sayangilah dan hormatilah kedua orang
tua selagi masih ada, jangan sampai kita menyesal;
2)
Buatlah orang tua merasa bahagia
dengan kedatangan kita yang selalu ada untuk mereka dan menjenguk mereka;
3)
Orang tua membutuhkan anak-anaknya
saat usia tua nanti, jadilah anak-anak yang berarti dan selalu berbakti kepada
mereka; dan
4)
Hiduplah rukun dan harmonis bersama
keluarga dan saudara-saudara.
Analisis
Unsur-unsur Intrinsik Drama “Kotak Surat Terakhir” (Mochamad Asrori))
a)
Latar
Belakang Kehidupan Pengarang
Mochammad Asrori dilahirkan di kota Surabaya, 24
Juni 1980. Alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri
Surabaya. Menulis esai, cerpen, dan puisi di tengah rutinitas sebagai wartawan
Glocal Magazine. Saat ini bergiat di komunitas penulis Warung Fiksi. Alamat:
Dsn. Sidonganti
RT.02/RW.01, Ds. Ngingasrembyong, Sooko, Mojokerto, 61361. Email: rori_story@yahoo.com.
b)
Nilai-nilai
yang Terkandung
Nilai moral:
Cerita ini mengajarkan untuk selalu
menghormati dan menyayangi kedua orang tua. Jangan sampai karena kita sibuk
dengan masa dewasa kita sehingga kita lupa pada orang yang telah merawat kita
hingga dewasa. Mengajarkan untuk selalu mendampingi orang tua saat tua nanti
karena yang dibutuhkan hanya kasih sayang anak-anaknya.
Nilai
sosial:
Hidup
rukun dan harmonislah bersama keluarga dan saudara-saudara.
Analisis Unsur-unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Drama Majalah Dinding
Analisis
Drama
Drama
“Majalah Dinding” (Bakdi Soemanto)
Sinopsis
Drama “Majalah Dinding” (Bakdi Soemanto)
“Majalah
Dinding”
(Bakdi
Soemanto)
Suatu
pagi di ruang kelas ada seorang siswa yang sedang duduk di atas meja. Siswa itu
namanya Anton. Ia adalah pemimpin redaksi majalah dinding. Disana dia ditemani
Rini, sekretaris redaksi, yang sedang duduk di kursi.
Pada
waktu itu hari Minggu, pagi-pagi sekali Anton buru-buru pergi ke sekolah karena
mendengar berita dari Wilar, wakil pemimpin redaksi sekolah, bahwa majalah
dinding itu di bredel oleh kepala sekolah gara-gara Trisno mengejek Pak Kusno,
guru karate.
Seorang
siswa lainnya, Kardi sedang membaca buku. Ia adalah eseis yang suka menuliskan
karangannya di majalah dinding sekolah. Lalu, Anton meminta tolong pada Kardi
untuk membantunya menyusun surat protes kepada kepala sekolah. Tetapi, Rini
merasa kalau protes tak ada gunanya, karena kepala sekolah itu berlagak
penguasa. Sedangkan, menurut Kardi tindakan kepala sekolah seperti itu adalah
mendidik. Bagi Anton, mendidik itu bukan begitu caranya. Rini pun berpendapat kalau lebih baik mereka
protes diam dengan cara mogok kerja sebagai staf redaksi. Anton sebagai
pemimpin redaksi masih memikirkan nasib anggotanya yaitu Trisno. Trisno masih
dalam bahaya karena karikaturis redaksi itu bisa celaka akibat ulahnya
tersebut. Pemimpin redaksi itu pun bingung bagaimana cara menyelesaikan masalah
ini. Mereka semua pun memikirkan bagaimana caranya dengan terus berdiskusi.
Mulai dari usulan untuk melakukan front terbuka, tetapi takut orang luar tahu
dan sekolah menjadi cemar. Usulan untuk melakukan main gerilya, tetapi takut
kalah. Mereka juga merasa bingung karena berhadapan dengan orang tuanya sendiri
sebagai kepala sekolah.
Tiba-tiba
Trisno datang dengan nafas terengah-engah. Peluhnya berleleran. Lalu, semua
orang menyemprot Trisno dengan berbagai pertanyaan. Setelah itu, Trisno pun
menjelaskan bahwa ia telah dipanggil oleh kepala sekolah ke rumahnya. Dia pun
menjelaskan kalau dia didesak oleh kepala sekolah soal majalah dinding itu dan
mengatakan kalau semuanya adalah ide dirinya sendiri. Lalu dia pun mengatakan
bahwa tanpa sepengetahuan Anton dia memasang karikatur itu, dan sepenuhnya
tanggung jawab dirinya.
Tiba-tiba
Anton marah, dia merasa tersinggung oleh sikap Trisno. Seharusnya Antonlah yang
mesti di undang dan sebagai penanggung jawabnya. Tetapi pada dasarnya Trisno
hanya ingin melindungi Anton sebagai pemimpin redaksi karena itu semua
kesalahannya. Tetapi Anton malah memarahi Trisno dan menganggapnya hendak
berlagak pahlawan lalu Trisno pun pergi meninggalkan kelas. Setelah itu, Wilar
datang. Dengan cepat Rini menanyakan kepada Wilar apakah Pak Lukas mau menolong
mereka dalam masalah ini. Wilar pun menjawab kalau Pak Lukas mau menolong
mereka. Wilar lanjut menjelaskan bahwa Pak Lukas sebagai wali kelasnya akan
ikut bertanggungjawab atas perbuatan Trisno terhadap Pak Kusno. Tetapi, dengan
syarat bahwa mereka tidak boleh bertindak sendiri. Lalu Pak Lukas menyatakan
kalau dia yang akan maju ke Bapak Kepala Sekolah. Pak Lukas pun tahu kalau Pak Kusno memang
kurang beres. Tetapi, kalau mereka bertindak sendiri-sendiri, maka akan
dilaporkannya ke Polisi.
Setelah
kejadian itu, mereka merenungkan bahwa Pak Lukas, wali kelasnya memang guru
sejati, karena sudah mau melibatkan dirinya dengan problem anak-anaknya. Rini
pun merasa kalau Pak Lukas seperti bapaknya sendiri. Pak Lukas seorang bapak
yang melindungi dan sifatnya lembut seperti seorang Ibu. Pak Lukas memang
penyelamat anggota staf redaksi saat itu. Mereka pun menyimpulkan kalau
kreativitas ternyata membutuhkan perlindungan.
Analisis
Unsur-unsur Intrinsik Drama “Majalah Dinding” (Bakdi Soemanto)
a)
Tema
Tema
yang diangkat dalam cerita drama ini adalah mengenai anggota staf redaksi
majalah dinding yang berusaha menyelesaikan masalah pembredelan mading yang
dilakukan oleh Kepala Sekolah, karena sikap salah satu anggotanya, Trisno,
seorang karikaturis telah mengejek Pak Kusno, guru karate. Temanya : diskusi
para anggota staf redaksi dalam penyelesaian masalah pembredelan mading.
b)
Alur
Alur
cerita drama ini adalah alur maju karena diawali dengan Anton, pemimpin redaksi
yang bingung karena masalah pembredelan mading oleh Kepala Sekolah. Hingga
akhirnya semua anggota staf redaksi pun berembug untuk menyelesaikan masalah
tersebut. Lalu, mereka pun mendapatkan solusi dengan Pak Lukas, wali kelasnya
yang akan membantu turun tangan dalam masalah ini dan akhirnya masalah
pembredelan pun selesai. Selanjutnya, mereka merenungkan kalau ternyata
kreativitas itu membutuhkan perlindungan.
c)
Tokoh
1)
Anton; pemimpin redaksi, kurang
memperhatikan pada kinerja anggota stafnya sehingga terjadi masalah pembredelan
oleh kepala sekolah, orang yang gampang emosi terhadap suatu hal yang kurang
berkenan di hatinya, menyalahkan orang tanpa mendengarkan penjelasannya
terlebih dahulu, tetapi pada akhirnya ia menyadari semua salahnya dalam
menyikapi masalah dengan mencoba merenungkan semuanya sehingga solusi pun
didapat dan masalah menjadi selesai.
2)
Rini; sekretaris redaksi, setia
menemani anggota staf dalam masalah, mencoba membantu mencari jalan keluar
dalam masalah itu.
3)
Kardi; eseis atau karikaturis yang
tulisannya mulai dikenal lewat majalah dinding, seseorang yang bijak dalam
menyikapi masalah karena ia selalu berpikiran baik terhadap orang walau
tindakannya kurang menyenangkan, dia orang yang cerdik dan cerdas dalam mencari
solusi, seorang penasihat yang baik pada teman-temannya, dia juga orang yang
sering di katakan filsuf oleh teman-temannya karena ucapannya yang selalu
bijak.
4)
Trisno; seorang karikaturis majalah
dinding yang mengejek Pak Kusno, biang semua masalah dalam cerita drama ini,
tetapi Trisno orang yang mau bertanggungjawab atas semua kesalahannya walau tak
dihargai oleh pemimpin redaksinya, dia berani mengambil resiko apapun atas
kesalahan yang ia perbuat.
5)
Wilar; wakil pemimpin redaksi, orang
yang mau membantu staf anggota redaksi dalam menyelesaikan masalah dengan meminta
bantuan pada wali kelasnya.
6)
Pak Kusno; guru karate yang sikapnya
kurang beres.
7)
Pak Lukas; guru wali kelas yang mau
melibatkan dirinya dalam masalah anak-anak didiknya dan seseorang yang ikut
bertanggungjawab dalam penyelesaian masalah anaknya, dia juga guru sejati yang
melindungi, sifatnya lembut keibuan, dan seorang penyelamat bagi anggota staf
redaksi saat itu.
d)
Latar
Latar tempat;
ruang
kelas dan rumah Pak Kepala Sekolah.
Latar waktu;
hari
Minggu dan pagi hari.
Latar
suasana;
Suasana
pada saat itu adalah kaget karena pemimpin redaksi mendapat berita pembredelan
mading oleh kepala sekolah karena salah satu anggotanya Trisno mengejek Pak
Kusno, sebagai guru karate. Semua anggota menjadi bingung bagaimana
menyelesaikan masalah itu. Lalu, berubah menjadi tegang karena Anton, pemimpin
redaksi itu marah kepada Trisno atas sikapnya. Tetapi, keadaan menjadi tenang
kembali dan mereka semua pun mendapatkan solusi dari masalah tersebut dengan
datangnya Wilar yang membawa kabar kalau Pak Lukas mau membantu mereka
menghadap ke Kepala Sekolah untu membicarakan hal tersebut.
e)
Amanat
1)
Jangan menyelesaikan masalah dengan
emosi;
2)
Hargailah keputusan orang lain;
3)
Ingatlah bahwa kreativitas itu
membutuhkan perlindungan.
Analisis
Unsur-unsur Ekstrinsik Drama “Majalah Dinding” (Bakdi Soemanto)
a)
Latar
Belakang Pengarang
-
b)
Nilai-Nilai
Yang Terkandung
Nilai sosial:
Cerita
ini mengajarkan untuk bersikap hormat pada guru sekalipun guru itu memang
kurang beres dalam arti bisa saja menyebalkan atau hal apapun, karena tetap
saja beliau itu guru kita. Sebaiknya kita berbicara baik-baik padanya dan
mengingatkan kepadanya kalau sikapnya kurang berkenan.
Cerita ini mengajarkan untuk
menghormati tindakan orang lain, berprasangka baik terhadap tindakan orang
lain, karena sebetulnya mungkin itu memberikan pelajaran atau pendidikan
terhadap diri kita.
Nilai moral:
Cerita ini
mengajarkan untuk dapat tenang dalam
menghadapi suatu masalah dan bersikaplah
dengan bijak bukan dengan penuh emosi yang dilakukan oleh tokoh Anton.
Dalam cerita ini juga kita dianjurkan sebaiknya bermusyawarahlah dalam
penyelesaian masalah.
Analisis Unsur-unsur INtrinsik dan Ekstrinsik Novel Ibrahim Rindu Allah
Novel “Ibrahim Rindu Allah”
(Wiwid Prasetyo)
Sinopsis Novel “Ibrahim Rindu Allah” (Wiwid Prasetyo)
“Ibrahim Rindu Allah”
(Wiwid Prasetyo)
Ibrahim
bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah
seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah
dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 67).
Inilah sebuah novel yang sangat inspiratif dalam membangun kehidupan penuh ketaatan kepada Allah Swt. Di dalamnya diangKat kisah heroik dan begitu menyentuh tentang perjalanan seorang hamba pilihan Allah yang membebaskan manusia dari gulita kesyirikan menuju benderang cahaya peradaban tauhid. Dialah, Nabi Ibrahim As.
Kisahnya yang sangat legendaris atas liku-liku pencariannya dalam menemukan keyakinan akan adanya Sang Pencipta alam semesta yang perlu disembah seluruh makhluk di jagat raya ini, benar-benar membuat beliau layak digelari Bapak Tauhid.
Keyakinan Nabi Ibrahim bukan tanpa ujian. Dakwahnya pun bukan tanpa tantangan. Ia harus berhadapan dengan Raja Namrudz dan pengikut-pengikutnya yang zhalim, termasuk berhadapan dengan keyakinan ayahnya yang masih taat menganut kepercayaan lama yang dianggapnya sesat. Ujung-ujungnya tentu saja sebuah hukuman sangat mengerikan harus dialaminya, yakni: dibakar hidup-hidup.
Sungguh, membaca novel ini dapat menjadikan kita teguh dalam menggenggam kebenaran; sebuah sikap yang sangat penting dalam kehidupan sekarang, di mana berhala-berhala Namrudz—meski dalam bentuk lain—dan para penyembahnya, mulai bermunculan di sekitar kita! Waspadalah…!
Inilah sebuah novel yang sangat inspiratif dalam membangun kehidupan penuh ketaatan kepada Allah Swt. Di dalamnya diangKat kisah heroik dan begitu menyentuh tentang perjalanan seorang hamba pilihan Allah yang membebaskan manusia dari gulita kesyirikan menuju benderang cahaya peradaban tauhid. Dialah, Nabi Ibrahim As.
Kisahnya yang sangat legendaris atas liku-liku pencariannya dalam menemukan keyakinan akan adanya Sang Pencipta alam semesta yang perlu disembah seluruh makhluk di jagat raya ini, benar-benar membuat beliau layak digelari Bapak Tauhid.
Keyakinan Nabi Ibrahim bukan tanpa ujian. Dakwahnya pun bukan tanpa tantangan. Ia harus berhadapan dengan Raja Namrudz dan pengikut-pengikutnya yang zhalim, termasuk berhadapan dengan keyakinan ayahnya yang masih taat menganut kepercayaan lama yang dianggapnya sesat. Ujung-ujungnya tentu saja sebuah hukuman sangat mengerikan harus dialaminya, yakni: dibakar hidup-hidup.
Sungguh, membaca novel ini dapat menjadikan kita teguh dalam menggenggam kebenaran; sebuah sikap yang sangat penting dalam kehidupan sekarang, di mana berhala-berhala Namrudz—meski dalam bentuk lain—dan para penyembahnya, mulai bermunculan di sekitar kita! Waspadalah…!
Unsur-unsur Intrinsik Novel “Ibrahim Rindu Allah” (Wiwid
Prasetyo)
a)
Tema
Tema cerita dalam novel ini
adalah perjuangan Nabi Ibrahim dalam
menemukan keberadaan Sang pencipta dan menemukan kebesaranNya.
b)
Penokohan
Tokoh dalam
cerita ini adalah;
1)
Bangsa
Sumeria; bangsa kafir yang memuja para dewa.
2)
Penduduk
keturunan kan’an; penduduk kafir yang memuja para dewa.
3)
Nabi Nuh; Nabi
yang mengajarkan ajaran Tauhid kepada Allah, baik hati, patuh terhadap
perintah Allah, sabar dalam menghadapi segala ujian dari Allah, dan selamat
dari bencana banjir besar yang diturunkan kepada kaumnya.
4)
Pendongeng
istana; seorang yang kafir dan memuja dewa.
5)
Raja
Namrudz; raja Babilonia yang menyembah dewa Marduk, seorang pemimpin yang
picik, zhalim, diktator, otoriter, serakah, dan sombong.
6)
Penduduk
Babilonia; penduduk kafir yang bangga bahwa peradaban yang mereka adalah dibangun
dari hasil kerja keras mereka setelah berhasil menaklukan alam.
7)
Bangsa
Mesopotamia; bangsa kafir pada zaman dahulu pada zaman Nabi Ibrahim
8)
Para
punggawa, penasihat, menteri kerajaan, prajurit, dan para budak; orang-orang
kafir yang patuh dan taat pada raja Namrudz.
9)
Ahli
nujum dan tukang ramal; orang kafir yang taat pada raja Namrudz.
10)
Fir’aun;
raja yang mengaku sebagai Tuhan pada zaman Nabi
Musa, yang zhalim.
11)
Nabi Musa; Nabi
utusan Allah.
12)
Theodore
Hezrl; tokoh yahudi yang terpandang.
13)
Tarukh;
Ayah Nabi Ibrahim, orang yang beriman
pada ajaran Tauhid Nabi Nuh dan percaya
pada kerasulan Nabi Ibrahim.
14)
Ummi
Ibrahim; ibu yang baik bagi ibrahim dan orang yang beriman pada ajaran Nabi
Ibrahim.
15)
Nabi Ibrahim; (anak Tarukh ketiga), pemberani,
penyabar, perjuangan dakwah tauhidnya yang penuh cobaan tetapi ia tetap tegar
dan ikhlas menjalankan semua kewajiban yang Allah perintahkan, Nabi utusan
Allah, dijuluki sebagai bapak para Nabi karena keturunannya banyak yang menjadi
Nabi dan utusan Allah, seorang Nabi ulul azmi.
16)
Ummi
Maryam; ibunya Nabi Isa.
17)
Nabi Isa; Nabi utusan Allah.
18)
Ummi
Imran; ibunya Nabi Musa.
19)
Nabi Musa; Nabi utusan Allah.
20)
Nahor;
saudara Nabi Ibrahim (anak Tarukh
pertama)
21)
Haran;
saudara Nabi Ibrahim (anak Tarukh kedua)
22)
Paman
Nabi Ibrahim; (bernama Azar) seorang
kafir penyembah berhala dan pembuat patung-patung rendahan, seorang
cendekiawan, seniman, astrolog, pebisnis, dan penasihat kerajaan.
23)
Putri
Razia; anak dari raja Namrudz yang beriman pada ajaran Nabi Nuh dan Ibrahim.
24)
Nabi Luth; (keponakan Nabi Ibrahim, anak dari Haran), seorang Nabi utusan
Allah.
25)
Bangsa
Amorit; bangsa kafir pada zamannya.
26)
Bangsa
Phoenicia; bangsa kafir pada zamannya.
27)
Bangsa
Filistin;
28)
Bangsa
Yabus;
29)
Bangsa
Yerusalem (ursalem);
30)
Kana’an
bin Ham bin Nuh; anaknya Nabi Nuh yang durhaka.
31)
Kaum
Jabbarin;
32)
Sarah;
istri Nabi Ibrahim 1, lemah lembut,
menawan hati penuh keikhlasan, selalu berusaha mengukur segala perilakunya
dengan keridhaan Allah, Ibu dari Nabi Ishaq.
33)
Paman
Nabi Ibrahim; baik hati, beliaulah yang
mengajarkan Nabi Ibrahim dan Nabi Luth menjadi pebisnis yang kaya dan ahli
dalam peternakan.
34)
Ado;
istri Nabi Luth yang kafir, membangkang
pada suaminya dan memilih untuk mengikuti kaum Sodom.
35)
Anak Nabi
Luth; tidak diceritakan apakah dia kafir
atau beriman pada ajaran Ayahnya.
36)
Raja
Menes; adil, tegas, tanpa pandang bulu, tetapi ia seorang kafir, raja kerajaan
Mesir.
37)
Raja
Sinan; bernama lengkap al-Amr bin Amru al-Qais bin Mailun, Raja yang zhalim
karena suka mempermainkan seluruh perempuan yang menjadi kaumnya, raja yang
mata keranjang pada semua perempuan cantik yang ia temui.
38)
Siti
Hajar; istri Nabi Ibrahim 2, sebelumnya
pembantu rumah tangga Nabi Ibrahim dan
Siti Sarah, pembantu yang taat, wanita yang lemah lembut, cantik hatinya,
wanita yang sabar, ibu dari Nabi Ismail.
39)
Dul
Arsh; orang yang zhalim karena membunuh Ayahnya Siti Hajar, lalu membuang Siti
Hajar dan menjadikannya sebagai budak dan selir di Istana kerajaan.
40)
Nabi Ismail; anak Nabi Ibrahim dan Siti Hajar, seorang Nabi utusan
Allah.
41)
Nabi Ishaq; anak Nabi Ibrahim dan Siti Sarah, seorang Nabi utusan
Allah.
42)
Rafqah;
keponakan dan istri Nabi Ishaq, cucu
dari Nahur saudara kandung Nabi Ibrahim.
43)
Istri
Nabi Ismail;
44)
Keturunan
Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Musa, Yunus, Daud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, dan
Isa; para Nabi utusan Allah.
45)
Keturunan
Ismail, Nabi Muhammad saw.; para Nabi
utusan Allah yang menjadi Nabi umat akhir zaman.
c)
Alur
Alur cerita dalam novel ini
adalah alur maju karena menceritakan perjuangan Nabi Ibrahim dalam mencari
kebesaran Tuhannya sejak ia lahir sampai meninggal dan banyak melahirkan
keturunan dan menjadi para Nabi sebagai penerus agama Allah atau agama ajaran Tauhid
(Islam).
d)
Sudut pandang
Sudut pandang cerita dalam novel
ini adalah sudut pandang orang ketiga.
e)
Gaya bahasa
Gaya bahasa yang digunakan dalam
cerita novel ini sungguh menyentuh hati para pembaca karena bahasa yang
digunakan membuat pembaca seolah mengikuti jalan cerita yang nyata, mendalami
perjuangan para Nabi, khususnya perjuangan Nabi Ibrahim dalam menemukan
keyakinannya dan menyebarkan ajaranNya. Gaya bahasanya mudah dipahami dan
dimengerti karena kisahnya Nabi Ibrahim ini diceritakan sungguh sangat heroik
dan penuh perjuangan, serta ditulis rapi dengan kisah yang bagus.
f)
Latar
Latar tempat;
sungai
Eufrat, sungai Tigris, negara kota Ur, kota Ereck, Babilonia, Niniveh, Kish,
Fadam Aram, Baitul Atiq, kerajaan Babilonia, ziggurat (kuil pemujaan), kota
Babel, kantor administrasi, rumah-rumah penduduk, kuil, asyiria, akkadia,
kaldea, negara Israel, tanah Shinear, gua, timur tengah, hutan, rumah, pasar,
alun-alun kerajaan, luar kota, sebuah desa, padang pasir, Ur-Kasdim, Kana’an
(Palestina), kota Harran, kota Bersheba, Asydod, Al-Quds, negeri Syam, negeri
Sodom dan Gomorrah, desa Shafrah, Mesir, sungai Nil, Piramid, Afrika Utara,
gurun Sinai, kerajaan Mesir, obelisk (kuil penyembahan), pasar daerah Memphis,
kedai minuman, kandang ternak, lembah Arab (Mekkah), laut tengah, rumah Hajar,
Yaman, dan ka’bah.
Latar waktu;
pada tahun
1970 SM, pada abad ke-21, pada malam hari, pagi hari, pada siang hari, pada
tahun 1900 SM, abad 2500 SM, tahun 2000 SM, senja, masa paleolitikum, dan abad
31 SM.
Latar suasana;
Suasana yang
tergambar adalah begitu menyedihkan karena pada zaman dahulu orang-orang
jahiliyah itu menyembah berhala, perjuangan para Nabi dalam menyadarkan kaumnya
adalah sangat berat, mereka (para Nabi) diuji kesabarannya oleh Allah begitu
pedih, tetapi mereka tetap tegar, ikhlas, dan penuh keberanian dalam melawan
musuh yaitu para orang kafir, lalu suasana gembira pun ada karena Nabi Ibrahim
banyak melahirkan keturunan para Nabi, dan satu per satu kaumnya pun beriman
pada ajaran yang dibawanya, walau tak sedikit juga yang terus menyimpang dan
tak mau beriman sehingga Allah menurunkan azab yang begitu mengerikan dan
sangat pedih.
g)
Amanat
1)
Yakinlah
pada ajaran Allah.
2)
Bersungguh-sungguhlah
dalam ibadah.
3)
Bersabar,
bertawakal, berserah dirilah hanya kepada Allah.
4)
Kita
harus selalu tegar dan kuat dalam menghadapi cobaan.
5)
Taat
pada perintah Allah.
6)
Berlaku
adillah pada setiap manusia.
7)
Jadilah
pemimpin yang baik, adil, dan bertanggungjawab pada rakyatnya.
8)
Jadilah
suami yang mendidik istri dan anaknya dengan agama.
Unsur-unsur Ekstrinsik Novel “Ibrahim Rindu Allah” (Wiwid
Prasetyo)
a)
Identitas Novel
Judul: Ibrahim Rindu Allah.
Pengarang: Wiwid Prasetyo.
Editor: Akhmad Muhaimin Azzet.
Tata sampul: Gobaqsodor.
Tata isi: Bambang.
Pracetak: Antini, Dwi, Yanto.
Cetakan
pertama: Juni, 2011.
Penerbit: DIVA Press.
Sampangan Gg.
Perkutut No. 325-B,
Jl. Wonosari,
Baturetno
Banguntapan
Jogjakarta
Telp.
0274-4353776, 7418727
Fax.
0274-4353776
Email: redaksi_divapress@yahoo.com
Blog: www.blogdivapress.com
Website: www.divapress-online.com
Sumber gambar
cover: www.alpineinstitute.blogspot.com
Tebal: 435 halaman.
b)
Latar belakang pengarang
Wiwid Prasetyo atau sering
juga menulis dengan nama Prasmoedya Tohari, lahir pada 9 November 1981 di
Semarang. Alumnus Fakultas Dakwah IAIN Walisongo, Semarang, pada tahun 2005
sehari-harinya aktif di Majalah FURQON, PESANTrend, Si
Dul (majalah anak-anak), serta tabloid Info Plus Semarang,
baik selaku redaktur maupun reporter. Selain itu, ia juga peduli terhadap dunia
pendidikan, terbukti masih menjadi pengajar di Bimbingan Belajar Smart Kids
Semarang.
Di sela-sela kesibukannya, ia
masih menyempatkan diri untuk menulis beberapa karya dalam bentuk buku.
Beberapa karyanya yang sudah terbit adalah Orang Miskin Dilarang
Sekolah (DIVA Press, 200), Sup Tujuh Samudra (Bersama
Badiatul Rozikin, DIVA Press, 2009), Chicken Soup Asma’ul Husna (Garailmu,
2009), dan Miskin Kok Mau Sekolah…?! (DIVA Press, 2009), Idolaku
Ya Rasulullah Saw…! (DIVA Press, 2009), Demi Cintaku pada-Mu (DIVA
Press, 2009), Aha, Aku Berhasil Kalahkan Harry Potter (DIVA
Press, 2010), The Chronicle of Kartini (DIVA Press, 2010),
dan Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu (DIVA Press,
2010).
c)
Nilai yang terkandung
Nilai
religius:
Mengajarkan
kita untuk berpegang teguh pada keyakinan aqidah ajaran Islam yang dibawa oleh
Nabi utusan Allah, mempercayai ajaran tauhid yang dibawa Nabi-nabi utusan
Allah, lebih mendekatkan diri pada Allah, lebih meyakinkan kita pada azab Allah
itu akan datang pada suatu kaum yang tidak taat pada ajaranNya.
Nilai
sosial:
Mengajarkan
kita untuk selalu berprasangka baik terhadap Allah, sesama manusia dan pada
makhluk lainnya, mengajarkan untuk tidak menjadi pendendam pada orang lain yang
telah memusuhi kita, mengajarkan untuk selalu sabar dalam menghadapi
orang-orang yang tak suka kepada kita.
Nilai
moral/akhlak:
Mengajarkan
untuk selalu sabar dalam beribadah kepada Allah, menjalankan segala perintahNya
dengan ikhlas dan tawakkal, mengajarkan untuk jadi pribadi yang lebih baik
dalam beribadah, dan menghargai orang lain, mengajarkan untuk menjadi seorang
pemimpin yang adil, bijaksana, dan bertanggungjawab.
Subscribe to:
Posts (Atom)
